LANGIT7.ID - Salah satu
keutamaan Al-Qur’an adalah orisinalitas teks yang terus terjaga sampai saat ini. Bahasa Arab dalam
Al-Qur’an era Rasulullah sama persis pada era saat ini. Tidak ada perbedaan sedikit pun.
Zulfan Abdillah, pemilik kanal Rabbaanians, mengatakan, Al-Qur’an berbeda dengan kitab suci agama lain.
Al-Qur’an memiliki terjemahan, tapi terjemahan itu tidak bisa dikategorikan sebagai kitab suci. Umat Islam hanya menyebutnya sebagai buku terjemahan Al-Qur’an.
“Kalau dikatakan
Al-Qur’an berbahasa Arab, tapi sudah banyak diterjemahkan ke berbagai bahasa yang dipakai di seluruh dunia. Tapi, Al-Qur’an dalam konteks kitab suci harus ditulis dalam bahasa Arab, tulisan ber-rasm Utsmani dan dibaca dengan bahasa Asli (Arab) atau dengan qiraat yang mutawatir,” kata Zulfan di kanal YouTube-nya, Selasa (28/6/2022).
Terjemahan sebuah bahasa bisa menimbulkan distorsi. Sebab, banyak kosakata asli suatu bahasa tidak terdapat di bahasa lain. Seperti ada banyak kosakata bahasa Arab yang tidak ada dalam bahasa Indonesia.
Baca Juga: Gus Baha: Alquran jadi Solusi Sampai Hari Kiamat
“Tidak semua istilah dalam kosakata bahasa Arab itu dapat dialihbahasakan ke bahasa lain dengan membawa Makna yang 100% sama dengan bahasa asli,” kata Zulfan.
Al-Qur’an juga tidak bisa diterjemahkan secara mentah. Itu karena kekurangan padanan kata sehingga terjadi distorsi. Maka itu, dalam terjemahan Al-Qur’an mengalami pelebaran makna agar mendapatkan maksud yang sebenarnya dari sebuah ayat.
“Contoh pemberian sisipan dalam tanda kurung. Sehingga, terjemahan Al-Qur’an itu bukan terjemahan harfiah, tapi terjemahan maknawiyah,” kata Zulfan.
Perihal menyalin teks ayat ke kertas, Al-Qur’an memiliki verifikasi ganda walaupun pada bahasa yang sama. Itulah yang disebut sebagai sanad. Penerjemahan Al-Qur'an tidak bisa sembarangan, ada standar verifikasi penerjemah berupa hafalan sanad qiraat, sehingga makna ayat tidak sama sekali spekulatif.
“Jadi, kalau ada yang salah dalam penulisan Al-Qur’an, maka sanad hafalan Al-Qur’an akan mengoreksinya, sehingga pada pembukuan Al-Qur’an digunakan dua sumber verifikasi, yakni catatan (
jam’u fi sutur) dan hafalan (
jam’u fi sudur),” kata Zulfan.
Sementara, mantan Mufti Mesir, Syekh Dr Ali Jum’ah di laman masrawy.com menjelaskan, ada perbedaan antara bahasa yang sakral dan kesakralan bahasa.
Bahasa sakral merupakan bahasa teksnya diyakini berasal dari Tuhan. Contoh, bahasa Ibrani dan Aram yang diyakini merupakan bahasa Al-Masih. Termasuk juga bahasa Arab, bahasa yang sakral karena digunakan dalam menurunkan Al-Qur’an.
Sementara, untuk kesakralan bahasa, Syekh Ali Jum'ah menyampaikan bahwa hal itu tidak ada. Sebab, bahasa itu dinamis, tumbuh dan berkembang serta bercabang. Maka itu, bahasa yang sakral itu dilestarikan agar bisa dipahami.
Allah Ta’ala menjadikan bahasa Arab agar menjadi bahasa Al-Qur’an. Sebab, bahasa Arab memiliki ciri khas tersendiri, sehingga Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab.
Baca Juga: Obati Jiwamu dengan Al-Quran, Tadabburi Mutiara-mutiara WahyuCiri pertama, sebagaimana yang dijelaskan Ibnu Jinni, yakni aspek kelengkapan. Ciri khusus berikutnya ialah otentik, memiliki ragam metafora, dan ragam bentuk penyampaian.
Selain itu, Syekh Ali Jum'ah menjelaskan, bahasa Arab juga memiliki banyak sinonim. Sebab, dalam bahasa primitif tidak terdapat sinonim. Dalam kasus bahasa Arab, contohnya adalah khamr, yang memiliki 90 sinonim.
Ciri khas lainnya, bahasa Arab memiliki sifat gabungan. Artinya, satu kata dalam bahasa Arab bisa memiliki banyak makna. Misalnya 'aynun', yang memiliki banyak arti, di antaranya mata, mata-mata, jiwa, dan lainnya.
(jqf)