LANGIT7.ID - Ruang maya begitu dinamis. Bermula dari perdebatan kecil lalu jadi perdebatan antar kelompok berujung polarisasi yang tak ada habisnya.
Media sosial bisa dibilang seperti hutan rimba yang tak ada aturan mengikat di dalamnya. Semua orang bebas bicara lalu saling berdebat sampai saling menjatuhkan. Kebebasan itu jika tidak dikelola dengan benar, seringkali malah membawa mudharat ketimbang manfaat. Oleh karena itu, adab dalam berdiskusi hingga berdebat di media sosial amat dibutuhkan.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin membahas adab dalam berdialog dan berdebat di ruang publik. Beliau mencatat ada delapan poin yang harus diingat setiap orang ketika berada di ruang publik, 8 poin itu di antaranya:
1. Introspeksi Diri Terlebih DahuluImam Al-Ghazali menuturkan, seseorang tidak diperbolehkan mengurus suatu masalah yang bersifat umum jika belum belum memenuhi kewajiban pribadinya. Menurut Al-Ghazali, orang sibuk mengurusi masalah orang lain, sementara prioritas dirinya tidak terurus adalah pembohong.
Baca Juga: Tahun Ini Harus Lebih Baik dari Kemarin, Berikut Tips Perbaikan Diri ala Imam Al-Ghazali
Media sosial kerap ditemukan orang menantang tokoh agama, memantik kontroversi, atau memperjuangkan isu tertentu, menjadi SJW (
Social Justice Warrior) lalu merasa paling benar.
Namun, buat apa menjadi SJW jika belum membenahi kekurangan sendiri?. Al-Ghazali mencontohkan, seorang pria yang ingin menghabiskan waktu membuat pakaian, dengan alasan memudahkan orang lain beribadah.
Tapi orang itu dianggap pembohong jika dia sendiri tidak pernah beribadah. Klaim menjadi SJW itu hanya semata-mata ingin mencari ketenaran ataupun materi. Seseorang harus memperbaiki diri sendiri sebelum mencoba memperbaiki orang lain.
2. Tetap Mengutamakan PrioritasImam Al-Ghazali tidak menganjurkan seseorang terlibat dalam adu argumen sementara ada kewajiban sosial lain yang lebih penting diperhatikan. Sebab, orang yang mengindahkan hal prioritas dan memilih mendebat hal tak perlu adalah perbuatan dosa.
Al-Ghazali menilai, seseorang boleh berdebat setelah mengurus kekurangan pribadi ataupun mengutamakan hal prioritas lalu mengurus hal lain. Ini fenomena umum saat ini. Banyak orang berdebat tentang hal tak perlu di media sosial, padahal di sekeliling mereka masih banyak kemiskinan dan bencana sosial lainnya.
Al-Ghazali mencontohkan, seseorang tengah beradu argumen dalam sebuah forum, sementara di forum itu ada orang kehausan. Menyelamatkan orang kehausan jauh lebih penting ketimbang melanjutkan perdebatan.
Imam Al-Ghazali tak setuju dengan orang yang terlalu teoritis dengan segudang argumen, tapi tak terlibat dalam isu-isu sosial yang tampak di depan mata. Orang seperti itu, kata Al-Ghazali, telah berdosa.
3. Harus Mandiri dalam Berpikir, Tidak Terpaku pada Pendapat Tokoh SemataMenurut
Imam Al-Ghazali, jika poin satu dan dua sudah terpenuhi, maka boleh saja masuk ke ruang debat. Tapi, harus berdebat dan berwacana dengan pikiran mandiri, tidak terlalu bergantung pada pendapat tokoh tertentu. Ini artinya, orang yang berdebat haruslah orang yang sudah matang dalam bidang keilmuan, bukan sembarang orang.
Baca Juga: Ketika Imam Al-Ghazali Meruntuhkan Filsafat Aristoteles
Jika seseorang tidak mandiri dalam berpikir, tetap membawa kepentingan kelompok atau golongan tertentu, lalu apa gunanya adu argumentasi? Padahal, inti debat dan diskusi adalah untuk sampai pada kebenaran, bukan untuk membangun sudut pandang.
4. Berdebat untuk Kepentingan SosialImam Al-Ghazali menuturkan, seseorang tidak berdebat hal apapun kecuali mewakili realitas di lapangan atau lingkungan sekitar. Sangat masuk akal berdebat tentang perubahan iklim, mencegah pandemi berikutnya, atau perawatan kesehatan umum.
Tidak penting berdebat jika hanya melahirkan pertengkaran atau perselisihan antar kelompok. Seseorang harus memperbaiki niat jika terlibat dalam perdebatan, harus membawa kepentingan umum.
5. Sebisa Mungkin Menghindari Perdebatan di Muka UmumMenurut Imam Al-Ghazali, berdebat atau berdiskusi di ruang privat untuk masalah tertentu lebih baik ketimbang berdebat di muka umum. Berdiskusi berdua lebih mudah dipahami, karena akan memberikan kejernihan pikiran dan bisa memahami kebenaran.
Perdebatan di muka umum kerap mengubah niat seseorang. Sehingga, awalnya ingin membawa kepentingan umum, justru melenceng dan lebih ingin dikenal orang banyak. Ini tentu keluar dari esensi perdebatan itu sendiri, yakni mencari kebenaran.
6. Terbuka dengan Semua PendapatMencari kebenaran, harus seperti orang yang mencari unta hilang. Jika seseorang kehilangan unta atau kendaraan, maka orang itu tidak hanya memikirkan di mana unta itu berada terakhir kali. Tapi dia akan terbuka dengan semua pendapat, baik itu pasangan, teman, atau pun para ahli.
Percakapan, argumen, dan debat harus dilakukan dengan cara yang sama. Ini adalah cara para sahabat dalam berdiskusi. Mereka selalu mencari kebenaran, dan memperlakukannya seperti unta yang hilang. Fokus mereka adalah mencari kebenaran, bukan siapa yang berbicara. Ini membuat mereka terbuka terhadap sudut pandang orang lain.
7. Tidak Mengintimidasi Lawan DebatDalam berdebat, seseorang tidak boleh menghalangi orang lain dalam menyampaikan pendapat. Kerap, ada orang menggunakan ragam siasat untuk memenangkan perdebatan. Ini bukan cara orang yang mencari kebenaran, tapi hanya mencari ketenaran.
Baca Juga: Pentingnya Niat dan Ikhlas Menurut Imam Al Ghazali
Taktik debat seperti ini kerap ditemui di ruang publik. Berbagai cara dilakukan agar lawan debat mati kutu dan tak bisa lagi mengeluarkan pendapat.
8. Berdebat dengan Lawan Sepadan Imam Al-Ghazali mengatakan, dalam ruang debat, orang yang berdebat harus orang yang sepadan dalam hal ilmu. Banyak orang mendebat junior, atau orang yang dianggap masih belajar hanya karena ingin dianggap hebat.
Orang seperti ini biasanya tidak mau berdebat atau berdiskusi dengan pakar atau ahli. Itu karena mereka tidak mencari solusi atas suatu masalah, hanya sekadar ingin unjuk gigi agar dibilang hebat.
sumber: imamsonline.com(jqf)