Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Ahad, 05 Juli 2026
home masjid detail berita

Ketik Kebencian di Medsos, Ustaz Robi: Tanda Anda Belum Raih Cinta Allah

ahmad zuhdi Ahad, 05 Juli 2026 - 06:01 WIB
Ketik Kebencian di Medsos, Ustaz Robi: Tanda Anda Belum Raih Cinta Allah
Ilustrasi ketikan kebencian di media sosial. Foto: Pexels.
LANGIT7.ID, Jakarta,- - ‎Di era digital saat ini, perselisihan dan kebencian begitu mudah tersebar hanya dalam hitungan detik. Ruang media sosial kerap dipenuhi oleh unggahan yang memecah belah, penyebaran aib, hingga komentar yang memprovokasi. Ketika perselisihan dipelihara dan kebencian disebarkan, maka bunga persatuan umat pun akan berguguran.

‎Menyikapi fenomena sosial ini, Dosen Institut Agama Islam Persatuan Islam (IAIPI) Bandung, Ustaz Robi Permana, mengajak umat Islam untuk merenungkan kembali hakikat keimanan melalui momentum Hadis Qudsi riwayat Imam Bukhari.

Baca juga: Gus Nadir Angkat Bicara soal Dugaan Ujaran Kebencian ke Ustazah Imas

‎عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: (إِنَّ اللهَ تَعَالَى قَالَ: مَنْ عَادَى لِي وَلِيَّاً فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالحَرْبِ. وَمَا تَقَرَّبَ إِلِيَّ عَبْدِيْ بِشَيءٍ أَحَبَّ إِلِيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ. ولايَزَالُ عَبْدِيْ يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِيْ يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الَّذِيْ يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِيْ بِهَا. وَلَئِنْ سَأَلَنِيْ لأُعطِيَنَّهُ، وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِيْ لأُعِيْذَنَّهُ) رَوَاهُ اْلبُخَارِيُّ

‎Dari Abu Hurairah radhiyallāhu 'anhu, ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda,
‎"Sesungguhnya Allah Ta'ala berfirman: Barang siapa memusuhi wali-Ku, maka Aku telah menyatakan perang terhadapnya. Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang Aku wajibkan kepadanya. Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya. Apabila Aku telah mencintainya, maka Aku menjadi pendengarannya yang dengannya ia mendengar, penglihatannya yang dengannya ia melihat, tangannya yang dengannya ia bertindak, dan kakinya yang dengannya ia berjalan. Jika ia meminta kepada-Ku, niscaya Aku akan memberinya. Jika ia memohon perlindungan kepada-Ku, niscaya Aku akan melindunginya." (Hr Bukhari).

‎Ia menegaskan bahwa tanda nyata seorang hamba yang dicintai oleh Allah dapat dilihat dari bagaimana ia menjaga lisan dan jemarinya di dunia nyata maupun dunia maya.

‎"Banyak orang mengira wali Allah atau kekasih Allah hanya mereka yang rajin ibadah ritual. Padahal, buah nyata dari kecintaan Allah kepada seorang hamba adalah terjaganya seluruh anggota tubuhnya dari kemaksiatan, termasuk dalam berinteraksi di media sosial," ujar Ustaz Robi Permana dalam pemaparannya, dikutip Sabtu (4/7/2026).

Baca juga: Wamenag: Publik Dihadapkan Tantangan Hoaks dan Ujaran Kebencian

‎Merujuk pada hadis tersebut, Ustaz Robi Permana menjelaskan ada dua tahapan utama bagi seorang Muslim untuk bisa masuk ke dalam lingkaran kekasih Allah. Pertama, menunaikan seluruh kewajiban (farā'iḍ).

‎"Ini adalah fondasi utama yang paling dicintai Allah, mulai dari shalat lima waktu, puasa, zakat, berbakti kepada orang tua, hingga menjauhi larangan-Nya. Amalan sunnah tidak akan sempurna jika yang wajib masih disepelekan," ujarnya.

‎Kedua, konsisten dengan Amalan Sunnah (nawāfil). Setelah yang wajib ditunaikan, seorang mukmin memperbanyak shalat malam, puasa sunnah, membaca Al-Qur'an, dan sedekah hingga Allah jatuh cinta kepadanya.

‎Ketika Allah sudah mencintai hamba-Nya, terdapat kalimat kiasan yang luar biasa dalam hadis tersebut: "Aku menjadi pendengarannya yang dengannya ia mendengar, penglihatannya yang dengannya ia melihat, tangannya yang dengannya ia bertindak, dan kakinya yang dengannya ia berjalan."

‎"Para ulama besar seperti Ibn Hajar al-Asqalani dan Ibn Rajab al-Hanbali menjelaskan, makna kalimat ini bukanlah Allah menyatu dengan makhluk. Maknanya adalah Allah memberikan taufik, bimbingan, dan penjagaan total. Pendengarannya dijaga agar tidak mendengar kebatilan dan selalu melakukan tabayyun sebelum menerima informasi," urai Ustaz Robi Permana.

‎Lebih lanjut, Ustaz Robi menekankan bahwa di zaman modern, makna "tangan" telah bertransformasi menjadi sarana untuk menulis, mengetik, dan menekan tombol pada telepon genggam atau komputer. Oleh karena itu, orang yang benar-benar dicintai Allah akan sangat berhati-hati dengan apa yang mereka ketik dan bagikan.

Baca juga: Berkat Salah, Ujaran Kebencian terhadap Muslim di Inggris Terus Berkurang

‎Sesuai tuntunan Rasulullah SAW, orang yang beriman harus berkata baik atau memilih diam. Orang yang mendapat taufik dari Allah tidak akan mudah melakukan ghibah (menggunjing), menyebarkan fitnah, melakukan namimah (adu domba), mencaci, atau memprovokasi perselisihan. Allah bahkan melarang keras ghibah dalam Surah Al-Hujurat ayat 12.

‎"Di dunia digital, status yang kita unggah dan komentar yang kita kirimkan setara dengan ucapan lisan. Sesuai Surah Qaf ayat 18, tidak ada satu ucapan atau tulisan pun yang luput dari pengawasan malaikat Raqib dan Atid," katanya.

‎"Kekasih Allah tidak akan mudah membuat unggahan yang memecah belah umat, menyebarkan berita bohong, memviralkan aib orang lain, atau mengirim komentar penuh kebencian. Semua ketikan kita di layar ponsel akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat," tegas Dosen IAIPI Bandung tersebut.

‎Ustaz Robi mengingatkan bahwa tolok ukur seorang Muslim yang sejati adalah ketika orang-orang di sekitarnya merasa aman dari gangguan lisan dan tindakannya, sebagaimana hadis sahih riwayat Bukhari dan Muslim.
‎Islam yang indah adalah Islam yang membawa kedamaian. Hubungan baik dengan Allah (hablun minallah) yang dibangun lewat shalat dan puasa, harus berbuah manis pada hubungan baik dengan sesama manusia (hablun minannas).

‎"Mari kita evaluasi diri. Jika hari ini jemari kita masih ringan menyebarkan kebencian dan tulisan kita masih sering memicu permusuhan, bisa jadi kita masih jauh dari taufik dan cinta Allah. Jadikan setiap ucapan dan unggahan kita di media sosial sebagai ladang kemaslahatan, bukan sumber petaka di akhirat," pungkasnya.


(est)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Ahad 05 Juli 2026
Imsak
04:33
Shubuh
04:43
Dhuhur
12:01
Ashar
15:22
Maghrib
17:54
Isya
19:08
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan