LANGIT7.ID - Tanggung Jawab seorang pejabat publik tak main-main. Mereka tak hanya memikul beban amanah di dunia saja, tapi akan diadili di akhirat kelak. Jika tak amanah, pejabat tak bisa mencium bau surga di akhirat kelak.
Suatu hari, Abu Dzar berkata, “Wahai Rasulullah, tidakkah engkau menjadikanku (seorang pemimpin)? Lalu, Rasul memukulkan tangannya di bahuku, dan bersabda:
“Wahai Abu Dzar, sesungguhnya engkau lemah, dan sesungguhnya hal ini adalah amanah, ia merupakan kehinaan dan penyesalan pada hari kiamat, kecuali orang yang mengambilnya dengan haknya, dan menunaikannya (dengan sebaik-baiknya).” (HR Muslim).
Baca Juga: Lili Pintauli Mundur dari Pimpinan KPK, Ini Pelanggaran Etik yang Tak Bisa Diadili
Dalam riwayat hadits yang lain, Nabi Muhammad SAW bersabda, “Tidaklah seorang hamba yang Allah beri amanat kepemimpinan, namun dia tidak menindaklanjutinya dengan baik, selain tak bakalan mendapat bau surga.” (HR Bukhari).
Hadits serupa disampaikan Imam Muslim dalam Shahih Muslim dengan redaksi sedikit berbeda:
“Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa diberi beban oleh Allah untuk memimpin rakyatnya lalu mati dalam keadaan menipu rakyat, niscaya Allah mengharamkan surga atasnya.” (HR Muslim).
Hadits ini membuat para sahabat bahkan para tabi’in sangat berhati-hati saat mendapatkan amanah. Apalagi, jika amanah yang diberikan berupa jabatan yang mengurusi masyarakat luas.
Baca Juga: Langgar Kode Etik, Wakil Ketua KPK Lili Panuli Siregar Dihukum Potong Gaji
Saat Umar bin Abdul Aziz diangkat menjadi Khalifah pada dinasti Bani Umayyah tepat 99 Hijriyah. Pemimpin besar itu menangis terisak-isak. Dia memasukkan kepalanya ke dalam dua lutut dan menangis sesegukan seraya berkata,
“Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun.” Dia lalu berujar, “Demi Allah, sungguh aku tidak meminta urusan ini sedikitpun, baik dengan sembunyi-sembunyi maupun dengan terang-terangan.”
Maka ketika seseorang mendapatkan amanah sebagai pejabat publik, hendaklah dia berhati-hati agar tidak menyelewengkan jabatannya. Sebab konsekuensinya tidak hanya berat di dunia namun lebih berat lagi di akhirat.
Jika memang tidak mampu, maka seseorang yang ditawari jabatan harus mampu mengukur diri dan kemudian menolak jabatan itu ketimbang tidak amanah saat menjalankannya.
(jqf)