LANGIT7.ID, Bogor - Tidak sedikit orang mengalami pahitnya kehidupan. Ikhtiar dan doa bisa memberikan jalan keluar hingga meraih kesuksesan. Putus asa bukanlah pilihan yang tepat, kegigihan untuk merubah hidup lebih baik itulah jalan yang harus diambil.
Seperti kisah perjalanan sukses muslim asal Bogor ini. Usaha gorengan yang dilakoninya sunguh-sungguh mampu merubah hidupnya menjadi lebih baik.
Anwar, pengusaha gorengan di Bogor, kini memiliki delapan cabang lapak gorengan. Ia mampu mendapatkan perolehan penghasilan yang belum pernah terbayangkan olehnya sebelumnya. Bahkan, ia mampu memperkerjakan orang-orang sekitarannya yang memiliki kesulitan, melalui jualan gorengan.
Terkesan bukan bisnis yang menjanjikan jika mengingat harga satu gorengannya sekitar seribu rupiah. Namun, Anwar dengan keuletan dan kegigihannya dalam berwirausaha mampu menghasilkan omzet sekitar Rp150 juta per bulan.
“Tujuan saya waktu itu adalah berpikir bagaimana di kota besar bisa hidup, saya pikirkan bagaimana caranya anak istri saya dapat rezeki dari saya,” ujarnya dikanal Youtube Kawan Dapur.
Dari hasil usaha gorengan ini, selain mampu memperkerjakan banyak orang, Anwar juga sudah berhasil melampaui target menafkahi anak istrinya. Bahkan ia sudah memiliki kendaraan roda empat dari hasil usaha, yang baginya merupakan sebuah prestasi yang harus disyukuri.
Awalnya, muslim asal Bumiayu ini merupakan pekerja di sebuah perusahaan, tapi pengurangan pegawai di perusahaan lamanya berimbas sehingga ia menganggur. Berpikir untuk menjalani hidup, Anwar mengisahkan dirinya yang kembali mondar-mandir untuk kembali melamar pekerjaan.
Sampai kakinya terhenti kala ia beristirahat di lapak gorengan dan ketika itu uangnya hanya tersisa Rp5 ribu. Tidak punya ongkos untuk pulang setelah berkeliling, ia menawarkan tenaga kepada lapak gorengan tersebut dengan harapan mendapatkan sedikit uang untuk ongkos pulangnya.
“Uang Rp5 ribu, itu saya beli gorengan dan sisa Rp3 ribu. Saya utarakan kalau tidak punya ongkos, dan saya tawarkan tenaga untuk kerja, hingga bisa dapat uang untuk ongkos pulang. Setelah itu saya kerja dan minta izin di hari ketiga, karena saya harus pulang kasih kabar kepada keluarga, setelah itu sore saya balik lagi untuk kerja di sana,” kenang Anwar tak kuasa menahan air matanya.
Lima tahun Anwar membantu untuk menjual gorengan, sehingga dari uang yang terkumpul selama itu, ia memutuskan membuka usahanya sendiri. Bukan perjalanan yang mulus, dua kali membuka usaha gorengan, Anwar mengalami kegagalan.
“Awalnya dua kali saya gagal, tapi itu pengalaman hidup. Setelah jualan sendiri, saya benar-benar menikmati mencari uang. Saya coba yang ketiga kali pindah lokasi. Alhamdulillah ramai, satu hari bisa menghabiskan satu bal terigu, itu ramainya sampai ngantri. Saya jualan dua jam bisa tembus di atas sejuta,” ujarnya.
Lagi-lagi kehidupan Anwar dihadapkan situasi sulit, keadaan tidak memungkinkannya untuk berada di samping istrinya yang selang beberapa hari melahirkan anak keduanya. Anwar mengenang, saat itu hanya mengantar istrinya naik motor yang ia punya ke Puskesmas terdekat lantas meninggalkannya untuk lanjut menjual gorengan.
“Saya antar ke Puskesmas, lalu langsung saya tinggal jualan. Waktu sudah lahiran, bahkan yang adzanin pun saudara saya. Ketika itu pikiran saya campur aduk, saya lagi butuh dana, dagangan lagi ramai, istri lagi lahiran, jadi yang saya pikirkan itu macam-macam. Terpenting saat itu buat saya bagaimana caranya dapat uang untuk menebus lahiran anak saya di Puskesmas,” jelasnya.
Kepedihan hidup yang saat itu dialaminya kini sudah membuahkan hasil. Sejak saat itu, ia mengaku usahanya terus ramai akan pembeli selama dua tahun ia geluti sendiri.
Merasa keuntungan dari usahanya sudah terkumpul, ia merasa perlu untuk membuka lapak gorengan baru. Berjalannya waktu, lapak gorengan Anwar sudah mencapai 14 lapak.
“Setelah dua tahun itu, saya berpikir untuk coba buka lagi lapak baru. Lama-lama orang datang sendiri minta pekerjaan. Sampai sekarang cabang yang jalan ada delapan, awalnya ada 14 lapak gorengan, sisanya untuk sementara stop dulu karena pandemi,” ujarnya.
Baginya, untuk berwirausaha perlu adanya ketekunan dan semangat sedari awal. Terkait soal ramai dan sepinya jualan, buatnya itu adalah bagian yang memang harus dialami oleh setiap pedagang.
“Juga disiplin, kalau kita disiplin akan dapat aturan main yang tepat. Kalau soal ramai sepinya jualan, itu bagian dari dagang. Jangan patah semangat kalau lagi sepi, kita perlu keyakinan dan introspeksi untuk mencari solusi. Jangan berpikiran negatif yang tidak perlu,” imbuhnya.
(zul)