LANGIT7.ID - Setiap orang yang berhaji pasti ingin mendapatkan haji yang mabrur. Lalu apa yang dimaksud haji mabrur?.
Pendiri Pusat Kajian Islam Quantum Akhyar Institut, Ustaz Adi Hidayat (UAH) menjelaskan, mabrur berasal dari kata Al-birru yang berarti kebaikan yang terlahir setelah mampu menepikan sifat-sifat yang tidak baik.
Menurut Ustaz Adi Hidayat, saat jemaah haji wukuf di Arafah, hal itu menjadi momen untuk berkontemplasi, merenung dan intropeksi diri, mengenal diri sendiri sehingga lebih dekat kepada Allah Ta’ala.
Di Muzdalifah menjadi tempat merenung dan berkomitmen untuk melepaskan semua sifat buruk, sehingga ada rangkaian lempar batu ke masing-masing tiang di komplek jembatan jumrah.
Baca Juga: Hukum Memakai Gelar Haji dan Hajjah Setelah Pulang Berhaji
“Puncaknya di Mina. Disebut dengan Mina karena kita berharap menjadi pribadi yang lebih baik lagi, setelah merenung dua sampai tiga hari,” kata UAH di Adi Hidayat Official, Sabtu (16/7/2022).
Setelah rangkaian itu dilalui, maka ditutup dengan thawaf ifadhah. Jamaah haji bertawaf dilandasi rasa syukur karena diberi kekuatan melepas sifat-sifat kurang baik. Dari situ diharapkan terjadi perubahan dari diri seseorang.
“Sifat yang muncul berubah baik, salehnya muncul, salahnya hilang. Ketika melekat pada diri kita, maka berubah dari kata Birru menjadi mabrur. Itulah yang disebut dengan haji mabrur,” jelas UAH.
Haji mabrur berarti haji yang mampu mengubah karakter sifat dan sikap yang lebih baik dari sebelum berhaji. Dari situ nilai-nilai kemuliaan telah dicapai, karena perubahan karakter sudah menjadi lebih baik.
Baca Juga: Kepulangan Kloter Pertama Jemaah Haji 2022 Alami Delay“Sangat disayangkan jika investasi yang tinggi, perjuangan harta benda, fisik, air mata dan segala hal yang telah diperjuangkan itu tidak bernilai karena tidak ada perubahan kebaikan ketika kembali,” tutur UAH.
Dia menegaskan, mudah bagi Allah memanggil setiap hamba untuk datang ke Tanah Suci. Sangat disayangkan jika tahun ini dipanggil Allah menunaikan haji, namun tidak bisa menggapai haji mabrur.
“Maka, dengan cara apalagi Allah mesti memanggil dan memberikan kesempatan?,” pungkas UAS.
(jqf)