LANGIT7.ID, Jakarta - Ada ciri-ciri rumah yang tak akan dimasuki
malaikat. Ini merupakan pesan Nabi SAW agar hunian
umat Islam tidak sampai diisi makhluk seperti jin dan setan.
Berdasarkan
hadist Rasulullah dari Abu Thalhah, Nabi SAW bersabda: "Malaikat tidak akan memasuki rumah yang di dalamnya ada anjing maupun lukisan." (HR Bukhari).
![Ciri-Ciri Rumah Tak Dimasuki Malaikat, Ini Pesan Nabi SAW]()
Rasulullah berpesan, umat Islam dilarang memelihara anjing di dalam rumahnya. Serta tidak memajang
lukisan berbentuk makhluk hidup seperti manusia dan hewan.
Baca Juga: Tak Dimasuki Malaikat, Ini Tanda-Tanda Jimat di Dalam RumahDalam riwayat lain, Nabi SAW bersabda: "Malaikat tidak akan masuk rumah yang di dalamnya ada anjing dan patung-patung." (HR. Muslim).
Jadi selain anjing, lukisan, keberadaan
patung-patung pun dilarang dalam Islam. Kondisi bisa menyebabkan hilangnya keberkahan di dalam rumah tersebut.
![Ciri-Ciri Rumah Tak Dimasuki Malaikat, Ini Pesan Nabi SAW]()
Alasan tidak bolehnya ada anjing karena binatang tersebut dihukumi dapat menimbulkan najis. Misalnya bila air liur dari hewan itu mengenai benda-benda di dalam rumah.
Sementara keberadaan lukisan dan patung sebenarnya masih menimbulkan pro kontra di kalangan sejumlah ulama. Ada yang mengharamkan mutlak, lalu sebagian lagi membolehkannya.
Baca Juga: Benarkah Malaikat Tak Masuk ke Rumah yang Ada Anjingnya? Begini Penjelasan Gus BahaPendapat yang mengharamkan lukisan mengacu pada hadist Nabi SAW yang berbunyi: "Orang yang paling pedih siksaannya di sisi Allah pada hari kiamat kelak adalah para pelukis." (HR. Ahmad).
Namun untuk patung, jumhur ulama mengharamkannya. Sebab pada masa lalu, patung-patung kerap menjadi sesembahan manusia.
Dalam Al Quran surah Ash-Shaaffaat, Allah SWT berfirman yang artinya: "Apakah kamu menyembah patung-patung yang kamu pahat itu? Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu." (QS Ash-Shaaffaat : 95-96).
Pendapat Gus BahaMenurut Pengasuh Pondok Pesantren Tahfidzul Qur'an LP3IA Rembang, KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau akrab disapa Gus Baha, ada tafsir lain mengenai hadist tersebut.
Ulama-ulama tasawuf mencoba mengkaji kitab Al-Hikam dan Ihya’ Ulumuddin. Mereka menyimpulkan, hadits tersebut merupakan bahasa kinayah atau perumpamaan.
"Rumah yang dimaksud di sini adalah hati," kata Gus Baha mengutip pendapat para ulama tasawuf.
Kemudian ulama menafsiri anjing dengan makna tamak karena anjing itu punya penyakit tamak. Gus Baha menyebut maksud dari anjing di situ adalah sifat tamak.
"Jadi, orang Islam itu hatinya tidak akan pernah dihuni malaikat kalau hatinya punya mental tamak," ujar Gus Baha.
Berdasarkan pertimbangan di atas, seorang muslim tentu harus memiliki sifat kehati-hatian dalam bertindak. Sebab ada batasan yang harus ditaati umat.
(bal)