LANGIT7.ID - Pengasuh Pondok Pesantren Tahfidzul Qur'an LP3IA Rembang, KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau akrab disapa Gus Baha, menjelaskan tafsir dari hadits yang menyebutkan malaikat tidak akan masuk ke dalam rumah orang yang ada anjingnya.
Hadits tersebut merupakan hadits shahih riwayat Abu Thalhah, bahwa Rasulullah bersabda:
عَنْ أبي طَلْحَةَ رضي الله عنه أنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَال: لا تَدْخُلُ المَلائِكَةُ بَيْتًا فِيهِ كَلْبٌ وَلا صُورَةٌ
“Malaikat tidak mau masuk rumah yang di dalamnya ada anjing dan patung.” (HR Bukhari-Muslim).
Para ulama terdahulu menafsirkan, malaikat yang dimaksud dalam hadits itu adalah malaikat rahmat. Sementara malaikat maut, tetap bisa masuk. Menurut Gus Baha, jika semua malaikat tidak masuk rumah yang ada anjing, maka orang memiliki anjing tidak akan mati.
Pandangan malaikat rahmat tidak akan masuk ke dalam rumah yang ada anjing, kata Gus Baha diprotes oleh para ulama tasawuf. Bagi mereka, tidak ada orang yang tidak mendapatkan rahmat Allah, meski ada anjing ataupun tidak, pasti tetap saja mendapat rahmat.
“Tadi kan ada ulama menafsiri hanya malaikat azab saja. Malaikat azab, malaikat maut bebas. Mau ada anjing atau tidak, tetap masuk. Tapi yang mengatakan malaikat rahmat tidak bisa masuk ditentang. Apa karena ada anjingnya lantas tidak ada rahmat Allah? Ya tetap ada kan,” kata Gus Baha, dikutip laman iqra.id, Rabu (8/12/2021).
Memang faktanya orang yang memiliki anjing tetap mampu makan hingga tidur. Hal itu merupakan salah satu bentuk rahmat dari Allah. Lalu, ulama-ulama tasawuf mencoba mengkaji kitab Al-Hikam dan Ihya’ Ulumuddin. Mereka menyimpulkan, hadits tersebut merupakan bahasa kinayah atau perumpamaan.
“Rumah yang dimaksud di sini adalah hati,” kata Gus Baha mengutip pendapat para ulama tasawuf.
Kemudian ulama menafsiri anjing dengan makna tamak karena anjing itu punya penyakit tamak. Gus Baha menyebut maksud dari anjing di situ adalah sifat tamak.
"Jadi, orang Islam itu hatinya tidak akan pernah dihuni malaikat kalau hatinya punya mental tamak," jelas Gus Baha.
Gus Baha mengakui tafsir tersebut cenderung berbeda dari tafsir kebanyakan. Namun bukan berarti ngawur atau sekuler sebab memiliki landasan juga.
"Saya bukan dalam konteks sekuler atau modern. Tidak!. Saya ngaji (kitab) Mahalli, ngaji Wahhab. Jadi ketika saya (berpikiran) modern, artinya punya banyak pilihan, memang karena alim. Bukan karena bid’ah, bukan! Tidak juga ingin yang aneh-aneh," tegas Gus Baha.
(jqf)