LANGIT7.ID - , Jakarta - Aksi publik figur,
Baim Wong mendaftarkan hak atas kekayaan intelektual (HaKi)
Citayam Fashion Week (CFW) untuk perusahaannya, PT Tiger Wong Entertainment, menuai kecaman dan sorotan negatif dari publik Tanah Air.
Banyak warganet mengkritik tindakan perusahaan Baim Wong soal CFW sebagai tindakan niretika. Meski begitu, ada juga yang melihat aksi Baim Wong ini merupakan satu langkah positif.
Baca juga: CFW Gerakan Organik, Ridwan Kamil: Biarkan Tetap SlebewPengamat pendidikan
Dirgantara Wicaksono melihat tindakan Baim ini adalah caranya berperan dalam mengembangkan bangsa Indonesia ke depan. Menurut Dirgantara, Baim paham bahwa eksistensi kaum muda perlu difasilitasi.
"Setiap konten kreator memiliki banyak ide untuk mengembangkan hasil karya dan melihat situasi yang pas untuk mengemas hal yang lebih baik," ujar pria yang akrab disapa Bombom ini pada Langit7, Senin (25/7/2022).
Namun, Bombom melanjutkan, kecaman
warganet berangkat dari aksi Baim yang mendadak dan tidak ada sosialisasi sebelumnya, hingga akhirnya tercium masyarakat.
Bombom pun mengapresiasi langkah Baim yang memberikan klarifikasi bahwa tindakannya itu sebagai cara untuk menyalurkan
kreativitas pemuda Indonesia.
"Saya pikir ini baik, bahkan menurut saya bagusnya Baim Wong bikin sekolah saja. Sekolah fesyen gratis kepada anak-anak yang tertarik di dunia fesyen, sehingga mereka dapat mengetahui bagaimana dunia fesyen profesional. Ajarkan itu secara gratis, jika perlu memakai izin sekolah non formal," katanya.
Baca juga: Tren CFW, Pemerintah Diminta Perhatikan Usia Wajib BelajarLebih lanjut, Bombom mengatakan terkait uang Rp500 juta yang diberikan pada Bonge memiliki kesan negatif, seperti riya. Menurut dia, akan lebih bagus jika uang tersebut dimanfaatkan untuk jangka panjang bukan jangka pendek.
"Sebenarnya, dibandingkan memberikan uang, akan lebih baik dia mendirikan suatu komunitas atau yayasan resmi Citayam Fashion Week. Di sana dia (Baim) mengajarkan bagaimana caranya untuk menjadi profesional, daripada mereka memberikan uang dan suruh mengembangkan sendiri," tuturnya.
Dalam pandangan Bombom, anak-anak usia tanggung itu tidak mengerti dalam
mengelola uang sebesar itu. Ditakutkan, mereka memanfaatkannya hanya untuk hal-hal yang bersifat jangka pendek.
"Anak-anak inikan tentunya tidak mengerti, nanti malah uangnya dipakai untuk beli mobil ataupun hal-hal yang sifatnya jangka pendek. Ini penting untuk didiskusikan kembali, tidak hanya memberi tetapi harus dipikirkan jangka ke depannya untuk Indonesia," pungkas Bombom.
Baca juga: Pemerhati Pendidikan Khawatir Munculnya 'Benih' LGBT di CFW(est)