LANGIT7.ID, Bogor - Lembaga dakwah Ar-Rahman Qur’anic Learning (AQL) Islamic Center memasuki usia ke-13 pada 1 Muharram 1443 H. Bagi insan AQL, 13 merupakan angka yang sangat spesial. Bertahan satu dekade menyiarkan nilai-nilai Islam bukan perjalanan mudah. Batu rintangan kerap menguji langka untuk tetap bertahan di jalan dakwah.
Acara yang digelar di Pondok Pesantren AQC, Bogor, Jawa Barat, Kamis malam (9/8/2021) diwarnai hiruk-pikuk menegangkan. Udara yang dingin membuat tubuh menggigil. Mendung menghalang pandang, hujan turun kala acara belum kelar.
Meski begitu, dedikasi insan AQL untuk memberikan yang terbaik tak surut. Basah tak jadi penghalang, lensa tetap menyorot pesan-pesan yang disampaikan pendiri AQL Islamic Center, KH Bachtiar Nasir. Begitu pun petuah KH Deden Makhyaruddin hingga pengalaman hijrah Arie Untung dan Fenita Arie.
Tatap muka memang tak jadi pilihan, namun nikmat kemudahan begitu banyak. Teknologi mengobati rindu ratusan jamaah yang ikut berpartisipasi melalui daring. Ucapan selamat datang tanpa henti, baik berupa gambar maupun video. Dinding maya seketika riuh dengan pesan-pesan hijrah.
Acara itu terasa hangat saat grup musik Aleehya menyenandungkan shalawat diikuti pengurus AQL di lokasi. Sepoi angin melirih dalam dzikir saat santri-santri AQC membacakan kitab suci. Suasana kian syahdu kala KH Deden Makhyaruddin menyampaikan petuah, demikian pula pesan-pesan dari KH Bachtiar Nasir.
Filosofi di Balik Angka 13 Milad AQL Milad ke-13 AQL Islamic Center mengingatkan pada perjalanan hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah pada tahun ke-13 kenabian. Sebuah potongan sejarah yang menjadi momen penting bagi umat Islam.
13 tahun menjadi akhir fase Makkah bukan sesuatu yang kebetulan. Kala itu ujian bertubi-tubi kepada Rasulullah SAW. Beliau diuji dengan banyak cobaan. Cacian maki menjadi makanan sehari-hari. Ancaman pembunuhan datang silih berganti. Ragam rintangan dakwah beliau lewati hingga turun perintah hijrah pada tahun ke-13 kenabian.
Suasana akhir fase Makkah memiliki kesamaan dengan kondisi saat ini. Pandemi Covid-19 sudah mewabah satu tahun lebih. Umat Islam mendapat ujian bertubi-tubi. Mulai dari kehilangan sanak keluarga, sahabat, hingga panutan umat yakni para ulama. Kematian para ulama merupakan bencana bagi umat Islam.
Kondisi ini mengingatkan pada surah Al-Ankabut ayat 2. Allah SWT berfirman, “Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya mengatakan, ‘kami telah beriman’,’ sedang mereka tidak diuji?”
Inilah yang membuat Milad AQL begitu spesial. Ada rahmat Allah yang begitu luas di tengah amuk pandemi. Bagi orang mukmin, pandemi Covid-19 adalah rahmat. Ujian kematian adalah rahmat. Hidup dalam cengkraman kematian yang terjadi setiap saat adalah rahmat.
Orang beriman meyakini bahwa Allah Ta’ala Maha Menghendaki segala sesuatu. Maka itu, orang beriman tidak akan bersandar kecuali kepada-Nya.
Pandemi Covid-19 ini menjadi kabar gembira bagi orang beriman karena merupakan ujian dari-Nya. Pandemi bisa menjadi momen seorang hamba untuk menjadi kekasih Allah. Bukankah itu sebuah nikmat yang luar biasa yang menanti di depan mata.
Seseorang akan menjadi kekasih Allah selama imannya tidak terkena virus. Iman tanpa virus membuat jiwa orang beriman merdeka. Merdeka karena tak lagi dikendalikan dunia, tidak dikendalikan nafsu, tidak dikendalikan lagi oleh fasilitas dunia.
Pandemi merupakan ujian untuk memurnikan iman. Ujian itu akan melenyapkan limbah-limbah dalam keimanan. Pada akhirnya yang tersisa adalah kemurnian iman. Kemurnian yang yang memantulkan cahaya dari timur ke barat.
Pimpinan AQL Islamic Center, KH Bachtiar Nasir, mengingatkan, malam tahun baru hijriyah merupakan momen kebahagiaan dan kebanggan orang Islam. Tahun baru Islam menjadi momen untuk memperbaharui hijrah dengan menjadi muslim yang berintegritas, serta menjadi pendakwah yang sungguh-sungguh mensyiarkan nilai-nilai Islam.
“Masa pandemi adalah masa seleksi. Pandemi adalah rahmat untuk mereka yang sungguh-sungguh beriman, mencari rahmat Allah, tapi saat yang sama pandemi ini menjadi penghinaan kepada mereka yang kufur kepada nikmat rahmat seperti ini,” kata UBN.
Hijrah memiliki makna yang sangat luas. Tak hanya berpindah dari perilaku buruk menjadi insan berakhlak mulia. Tak hanya pindah dari lingkungan maksiat lingkungan iman. Lebih dari itu, seseorang harus hijrah dari perilaku malas karena kebijakan work from home (WFH) akibat pandemi.
"Jangan jadi pemalas karena WFH," begitu pesan UBN. Pandemi adalah rahmat. Maka keberuntungan akan datang bagi mereka yang sungguh-sungguh mencari rahmat Allah. Bukan duduk berpangku tangan, namun tetap produktif dengan semua nikmat kemudahan yang telah disediakan.
"Rahmat pandemi hanya untuk mereka yang tidak malas-malasan dan bersungguh-sungguh berdakwah di jalan Allah," pungkas UBN.
(jqf)