LANGIT7.ID, Jakarta -
Muhammad Saihul Basyir merupakan seorang Hafidz Qur’an yang telah hafal 30 Juz Al-Qur’an saat duduk di bangku kelas 6 Sekolah Dasar (SD). Dia dan 11 saudaranya mampu hafal 30 Juz di usia belia berkat bimbingan dan didikan dari kedua orang tuanya, Mutammimul ‘Ula dan Wirianingsih.
Saat mulai menghafal Al-Qur’an pada usia tujuh tahun,
Basyir menggunakan rumus 1+2. Namun, Basyir mengungkapkan, saat proses menghafal Al-Qur’an, tidak ada metode yang efektif. Rumus yang dia gunakan itu hanya membantu menertibkan hafalan.
Rumus itu berangkat dari fakta bahwa setiap orang memiliki tiga bagian memori ingatan. Bagian pertama adalah memori jangka pendek. Memori ini kerap diisi informasi-informasi yang dianggap tidak penting atau tidak berkesan dalam kehidupan seseorang.
Baca Juga: Kunci Sukses Saihul Basyir Jadi Bintang Al-Quran, Hafal 30 Juz Sejak Kelas 6 SD
Bagian kedua adalah memori jangka menengah. Memori ini biasanya diisi informasi dan pengetahuan yang penting, berkesan, lalu diulang-ulang pada hari atau waktu tertentu. Dan bagian terdalam adalah memori jangka panjang.
“Memori jangka panjang biasanya adalah hal-hal yang sudah diulang-ulang selama lebih dari ratusan kali, atau dibahas dan dibicarakan bertahun-tahun,” kata
Basyir kepada LANGIT7.ID saat ditemui di Islamic Book Fair (IBF), Jakarta, Kamis (4/8/2022) malam.
Dari tiga memori itu, Basyir pun menemukan rumus 1+2. Artinya, hafalan yang disetorkan adalah hafalan hari ini, ditambah hafalan yang sudah disetorkan hari kemarin, dan hari kemarinnya lagi. Jadi, menghafal sekaligus murajaah.
Baca Juga: Ustaz Saihul Basyir: Al-Qur’an Bukan Hanya Dibaca tapi Juga Solusi Persoalan Manusia
“Hafalan di hari ini saya lambangkan dengan angka 1, dan hafalan sejak dua hari lalu saya simbolkan dengan angka 2,” kata alumnus Pondok Pesantren Yanbu’ul Qur’an Kudus itu.
Dia menjelaskan, kunci menjalankan metode ini adalah melakukan asesmen atau penilaian kepada kemampuan diri sendiri terlebih dahulu. Apakah termasuk orang yang bisa menghafal cepat atau menghafal sedikit dalam waktu yang lama.
“Dengan penilaian di muka semacam ini, kita jadi bisa mengukur dan memastikan seberapa banyak ayat atau halaman yang akan kita hafal di hari pertama, tidak akan memberatkan kita di hari kedua dan ketiga,” jelas alumnus LIPIA Jakarta itu.
Baca Juga: 7 Pesantren Tahfidz Al-Qur'an Terbaik di Indonesia
Namun, dia mengingatkan, rumus itu tidak akan berguna jika tidak lakukan dengan sabar dan istiqomah. “Siapa yang bersabar dan melakukan apa yang diarahkan padanya (oleh guru) meski sedikit, akan memberi dampak besar dan keberhasilan sampai selesai 30 juz,” pungkasnya.
(jqf)