LANGIT7.ID, Jakarta - Nama Muzammil tak asing lagi bagi generasi milenial. Pria lulusan Teknik Arsitektur Institut Teknologi Bandung (ITB) itu terkenal dengan bacaan Qur’annya yang merdu. Dia pertama kali dikenal publik dari video saat mengimami shalat berjamaah sebagai imam Masjid Al-Lathiif Bandung dan Masjid Salman ITB.
Muzammil Hasballah merupakan seorang Qari yang berasal dari Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Pria yang akrab disapa Muzammil ini lahir di Sigli, NAD pada 21 September 1993.
Kedekatan Muzammil dengan Al-Qur’an tidak begitu saja muncul. Namun sudah dibina dengan menghafalkan Al-Qur’an sejak dini.
Baca Juga: Rahasia Wirianingsih Berhasil Didik 11 Anak Jadi Penghafal Al-Qur’an
“Belajar Qur’anya sih alhamdulillah udah dari kecil. Waktu SMP sempat tinggal di rumah tahfidz, jadi intens belajar waktu itu sebenarnya,” kata Muzammil saat ditemui LANGIT7.ID di Islamic Book Fair (IBF), Jakarta, Jumat (5/8/2022).
Dia mempelajari Al-Qur’an secara bertahap. Saat SD dia fokus mempelajari
mujawwad. Teknik ini menggunakan irama tertentu dan membutuhkan teknik pernafasan tingkat tinggi. Biasanya,
Mujawwad dilantunkan dengan ritme yang lebih lambat daripada murottal.
Saat duduk di bangku SMP, dia fokus menghafal Al-Qur’an (
hifzil Qur’an). Saat SMA konsen di
fahmil Quran (memahami Al-Qur’an). Dia pun kerap mengikuti jenjang musabaqah di tiga bidang itu.
Baca Juga: 13 Prinsip Menghafal Al-Qur’an Seperti Rasulullah dan Para Sahabat
Saat kuliah, dia tidak membiarkan kesibukannya di kampus menggaggu kedekatannya dengan Al-Qur'an. Meski mendapat berbagai kesulitan saat membagi waktu dengan dunia akademik, namun dia sama sekali tak pernah surut semangat.
“Kalau kuliah di ITB, susah-susah gampang yak membagi waktu antara Qur’an dan akademik. Seenggaknya sesibuk apapun berusaha untuk tetap dengerin murottal, itu cara saya murajaah kalau lagi sibuk,” kata Muzammil.
Tak Berhenti Dalam Ilmu Qur'anMuzammil berprinsip belajar agama harus dilakukan secara terus-menerus. Tidak boleh berhenti. Terlebih jika hidup di kota besar sebagai perantau. Banyak godaan sehingga harus terus menjaga iman.
“Ikhtiar saya itu, sesibuk apapun kuliah, mau ada deadline tugas, minimal sepekan sekali saya nyempetin ke taklim, ngisi ilmu agama,” kata Muzammil.
Baca Juga: Kunci Sukses Saihul Basyir Jadi Bintang Al-Quran, Hafal 30 Juz Sejak Kelas 6 SD
Saat di Bandung, Muzammil juga dipertemukan dengan guru Qur’an dari Timur Tengah. Dia
talaqqi dan membenarkan bacaan pada guru tersebut. Dia menyebut guru Qur’an sangat penting bagi seorang Qari'.
“Alhamdulillah, waktu di Bandung saya ketemu dengan guru Qur’an saya, syekh dari Timur Tengah, tempat saya
talaqqi, benerin baca Qur’an. Intinya tidak berhenti belajar,” pungkas Muzammil
(jqf)