LANGIT7.ID-, Bandung- - Lagu berjudul “Erika” yang dibawakan oleh Orkes Semi Dangdut (OSD), yang merupakan bagian dari Himpunan Mahasiswa Tambang (HMT)
Institut Teknologi Bandung (ITB), tengah menjadi sorotan masyarakat.
Pasalnya lirik lagu tersebut dinilai mengandung unsur pelecehan terhadap perempuan.
Menanggapi polemik yang berkembang,
ITB menegaskan keseriusannya dalam menjaga suasana kampus yang aman, nyaman, bermartabat, dan saling menghormati bagi seluruh sivitas akademika.
Baca juga: Belum Reda Kasus FHUI, Muncul Video Mahasiswa ITB Diduga Lecehkan Perempuan"Menyikapi beredarnya konten yang menimbulkan keresahan publik, ITB memandang peristiwa ini sebagai momentum penting untuk memperkuat budaya kampus yang menjunjung etika, penghormatan terhadap martabat manusia, serta pencegahan segala bentuk kekerasan, termasuk
kekerasan seksual verbal," kata Direktur Komunikasi dan Hubungan Masyarakat ITB, Nurlaela Arief dalam keterangan resmi, Rabu (15/4/2026).
Nurlaela mengatakan bahwa HMT-ITB telah menyampaikan
permohonan maaf secara terbuka, sekaligus menegaskan bahwa konten dalam penampilan tersebut tidak mencerminkan nilai-nilai yang seharusnya dijunjung di lingkungan akademik dan organisasi kemahasiswaan.
"HMT-ITB juga menyatakan tidak membenarkan segala bentuk tindakan yang merendahkan martabat individu maupun kelompok mana pun," lanjut Nurlaela.
Ia menambahkan, Sebagai tindak lanjut, HMT-ITB telah berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk menurunkan konten video dan audio dari kanal resmi organisasi serta akun-akun terafiliasi, termasuk video lama yang kembali beredar di masyarakat.
"Selain itu, dilakukan evaluasi internal secara menyeluruh terhadap konten, pelaksanaan, dan pengawasan kegiatan, sekaligus peninjauan ulang terhadap standar dan pedoman organisasi agar semakin selaras dengan nilai-nilai etika di lingkungan kampus dan masyarakat," urainya.
Baca juga: Awal Mula Kasus Pelecehan Seksual 16 Mahasiswa FHUI Terkuak dan Viral di MedsosDalam pernyataannya, Nurlaela mengatakan bahwa ITB telah melalui langkah pembinaan di antaranya kampanye etika berpenampilan dan komunikasi mahasiswa lewat pesan singkat yang digagas Direktorat Persiapan Bersama (Ditsama) ITB.
"Kampanye ini menekankan pentingnya sikap sopan, hormat, tanggung jawab, dan kedewasaan mahasiswa dalam berpenampilan maupun berkomunikasi di lingkungan akademik," kata Nurlaela.
Selanjutnya, kata Nurlaela, penguatan itu kemudian diperluas kampanye etika mahasiswa dan literasi media sosial di lingkungan kampus. Dalam kampanye ini, ITB mengajak mahasiswa untuk memahami pencegahan kekerasan seksual, baik fisik maupun verbal, sekaligus menggunakan media sosial secara bijak, kritis, santun, dan bertanggung jawab.
"Mahasiswa didorong untuk menjaga sikap, menghargai sesama, memeriksa fakta sebelum menyampaikan informasi, serta menyampaikan pendapat dan kritik secara konstruktif tanpa menyerang pihak lain," urainya.
Sementara itu, dalam upaya pencegahan dan penanganan kekerasan, ITB juga telah menetapkan Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (PPK) yang menaungi seluruh kampus ITB di Ganesha, Jatinangor, Cirebon, dan Jakarta. Satgas ini berperan dalam memperkuat sosialisasi, pencegahan, serta menyediakan kanal konsultasi dan pelaporan bagi warga kampus.
Baca juga: Desakan Kuat 16 Mahasiswa FHUI Kena Sanksi DO, Dekan Tegaskan Tak Punya WewenangSelain itu, edukasi mengenai Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS) juga telah menjadi bagian dari materi pembinaan mahasiswa baru ITB, yang dipadukan dengan informasi pelayanan kesehatan di lingkungan kampus.
"Melalui penguatan etika, pembinaan karakter, serta sistem pencegahan dan penanganan kekerasan yang terus diperkuat, ITB berupaya menghadirkan ekosistem pendidikan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga sehat secara sosial, kuat secara etika, dan berpihak pada nilai-nilai kemanusiaan," tutup Nurlaela.
(est)