LANGIT7.ID, Jakarta - Pengamat Pariwisata dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Intan Purwandani G menyebut potensi kenaikkan harga wisata akan tetap ada jika sudah terlalu lama membuka objek wisata demi target angka wisatawan yang tinggi.
Menurut Intan, Indonesia sudah lama mengembangkan pariwisata yang setiap kali berbicara tentang
pariwisata, pembahasannya adalah tentang keuntungan ekonomi, sementara tidak selamanya pariwisata hanya membahas keuntungan ekonomi.
"Dua hal tersebut terbukti hingga saat ini Candi Borobudur dan Taman Nasional Komodo yang akhirnya tiketnya dinaikkan setelah adanya studi yang menyebutkan bahwa keduanya sudah mulai rusak dan sudah perlu konservasi," kata Intan kepada Langit7, Selasa (16/8/2022).
Baca juga: Pengamat Pariwisata: Intensitas Pengembangan Wisata Halal di Indonesia BerkurangMenurutnya, ke depan tentu hal tersebut akan menjadi pelajaran bagi destinasi-destinasi lain yang selama ini hanya berbasis angka, bukan berbasis kualitas dan ini banyak ditemui di Indonesia.
"Kalau kita bicara destinasi yang membuka sebesar-besarnya wisatawan yang berkunjung dibandingkan dengan aspek konservasi untuk keberlanjutannya. Jadi ke depannya saya pikir potensi menaikan harga akan tetap ada kalau sudah terlalu lama, kita membuka demi angka wisatawan yang tinggi," ungkapnya.
Intan mengatakan, meskipun angka atau harga-harga dinaikkan untuk dua destinasi tersebut, target pemerintah untuk menaikkan wisatawan tetap saja tinggi, terutama wisatawan mancanegara. Padahal sebetulnya yang dicari bukanlah mencari angka wisatawan yang tinggi tetapi mencari wisatawan yang berkualitas.
"Jadi masalah utama karena selama ini kita seolah-olah ketika menargetkan 10 juta wisatawan ke Indonesia udah titik di situ, padahal kalau kita lihat lagi selama ini wisatawan asing yang datang ke Indonesia itu apakah mereka wisatawan yang berkualitas," katanya.
Baca juga: Kemenparekraf akan Uji Coba Harga Tiket Baru Masuk Taman Nasional KomodoLebih lanjut, Intan menjelaskan definisi wisatawan berkualitas sebagai wisatawan yang utama datang ke Indonesia untuk belanja banyak, mengeluarkan banyak pengeluaran di Indonesia. Akan tetapi, nyatanya banyak wisatawan asing yang datang membuat masalah.
"Itulah bila kita hanya menargetkan angka wisatawan masuk tetapi wisatawannya tidak berkualitas. Nah, PR kita yang utama adalah mencari wisatawan yang berkualitas bukan sekadar angka yang tinggi," ungkapnya.
Intan menambahkan, kalau pun Indonesia hanya bisa mendatangkan misalnya 4 juta wisatawan asing, tetapi wisatawan tersebut berkualitas atau dia berkontribusi banyak secara finansial dan sosial.
"Hal tersebut akan jauh lebih baik daripada 10 juta wisatawan yang setelahnya rusuh dan membuat onar, sehingga itu dapat mengganggu stabilitas masyarakat lokalnya," jelasnya.
(sof)