LANGIT7.ID, Jakarta - Definisi wisata halal dinilai masih berkembang dan terus menyesuaikan konteksnya, di mana wisata tersebut dikembangkan.
Pengamat Pariwisata dari Universitas Gadjah Mada, Intan Purwandani G menjelaskan
wisata halal bermula dari adanya berbagai permintaan untuk disediakan fasilitas terutama bagi wisatawan muslim bisa melaksanakan ibadahnya selama dalam perjalanan.
"Jadi misalkan mereka butuh tempat salat, wudhu, makanan halal sehingga dikemas dan dikembangkan di berbagai negara dengan berbagai konteks wilayah yang berbeda. Ada juga wisata halal yang definisinya memisah hotel antara laki-laki dan perempuan," kata Intan saat dihubungi Langit7 Senin (15/8/2022).
Baca juga: Hukum Shalat Jamak Qashar karena Alasan Jalan-Jalan BerwisataIntan menyampaikan, di Indonesia wisata halal sebenarnya sudah cukup lama didengungkan oleh pemerintah Indonesia. Di mana pemerintah fokus secara formal dalam waktu lima tahun terakhir.
"Pemerintah Indonesia fokus mengembangkan wisata halal hingga memang ada statement dan policy brief yang diciptakan untuk pengembangan wisata halal. Namun saya pikir belakangan ini konsentrasi mengembangkan wisata halal itu intensitasnya berkurang," tegasnya.
Menurut Intan, hal tersebut terutama muncul ketika adanya bebagai macam kontroversi di lapangan seperti adanya penolakan di berbagai wilayah dengan terminologi wisata halal itu sendiri.
"Sehingga konsentrasi untuk pengembangan wisata halal saya lihat belum mengemuka kembali untuk digalakkan. Akan tetapi saya lihat pemerintah masih tetap ada strategi untuk mengembangkan wilayah, dan secara skala prioritas wisata halal mungkin belum masuk prioritas utama pengembangan pariwisata Indonesia," ungkapnya.
Baca juga: Kuliner Aloon-aloon, Menikmati Kuliner Khas Semarang dengan Suasana Kota LamaIntan menuturkan, terkait keberhasilan sekitar tahun 2016 dirinya melakukan riset tentang wisata halal di beberapa wilayah Indonesia dan dikatakan bahwa wisata halal di Indonesia belum 100 persen berhasil.
"Hanya lebih tepatnya saya pikir lebih sesuai dengan budaya di beberapa wilayah tersebut. Contohnya di Nusa Tenggara Barat wisata halalnya masih dikembangkan karena memang nilai budaya Islam di sana cukup kuat," ujarnya.
Dengan demikian sebelum adanya istilah wisata halal, daerah tersebut sudah mengembangkan semua hal. Tidak hanya wisata tetapi semua yang hal berbasis syariat-syariat Islam dan menjadi acuan dalam kehidupan masyarakat sehari-hari termasuk pengembangan pariwisata.
"Kemudian di Aceh jug regulasi lokalnya mengatur semua sisi kehidupan berdasarkan aturan syariah, sehingga dalam pengembangan pariwisata juga menggunakan dasar yang sama. Kemudian ini berlaku jauh sebelum terminologi wisata halal muncul," katanya.
Intan menambahkan, dengan adanya terminologi satu hal muncul sesuai kearifan lokal, sehingga muncul kesan keberhasilan dari penerapan wisata halal di daerah tersebut. Karena kesesuaian antara konsep wisata hala dengan kearifan lokal.
"Kalau saya lihat itu lebih karena kompetibel aja konsep wisata halal dengan kearifan lokal mereka selama ini, jadi memang itu menonjol menjadi hal yang dilihat dalam indikatornya seperti behasil dalam penerapannya," terang Intan.
Dia berharap pengembangan wisata halal akan sesuai dengan kearifan lokal sehingga tidak menimbulkan masalah baru di Indonesia, sehingga perlu juga diteliti lagi apakah Indonesia perlu mengemas pariwisata sebagai pariwistaa halal, demi memenuhi kebutuhan wisatawan muslim yang datang ke Indonesia.
Baca juga: Benteng Wolio, Spot Unggulan Desa Wisata Limbo Wolio"Tanpa terminologi wisata halal segala fasilitas yang ada di Indonesia mayoritas sudah berbasis halal, jadi mungkin kita butuh studi khusus mengemas wisata berbasis halal perlu dinamakan wisata halal atau ada terminologi lain yang bisa digunakan seperti muslim friendly tourism dan lainnya," harap Intan.
Menurutnya, hal tersebut karena perlu mempertimbangkan stabilitas masyarakat sehingga kemudian mencari jalan tengah agar Indonesia tetap bisa menerima wisatawan muslim, serta masyarakat lokal juga tetap bisa nyama dalam menerima.
(sof)