LANGIT7.ID, Jakarta - Orangtua yang
overparenting ternyata memberi dampak negatif terhadap anak. Upaya mendorong kesempurnaan buah hati justru menghalangi potensi mereka berkembang.
Psikolog, Pritta Tyas Pangestuti, menjelaskan overparenting atau helicopter parenting adalah mengontrol segala sesuatu yang terjadi pada anak. Mulai dari tumbuh kembangnya, pergaulan, interaksi, ataupun aktivitasnya.
Adapun ciri-ciri orang tua overparenting adalah sebagai berikut:
Baca Juga: Tips Parenting dari Ustadz Abdul Somad, Sediakan Waktu untuk Anak1. Terlalu banyak mengaturCiri pertama orang tua overparenting adalah ingin mengatur semua hal tentang anak. Di antaranya seperti baju yang dipakai, makanan, mainan, hingga rutinitasnya yang kerap kali diatur secara ketat.
"Juga termasuk waktu main, kecuali untuk waktu makan, mandi, dan waktu tidur," jelas dia dikanal YouTube Parentalk ID.
2. Takut anak gagalOrang tua yang takut anaknya gagal atau selalu ingin melihat anaknya tampak baik di mata orang adalah ciri overparenting selanjutnya.
"Misalnya ketika anak mengerjakan sebuah puzzle, nah kita selalu membantu mereka agar selesai sempurna. Atau kalau anak mengalami kesusahan kita gatel untuk cepat menawarkan bantuan," ujarnya.
3. Cemas akan tumbuh kembangCiri ini biasanya akan membuat orangtua curi start terhadap pertumbuhan anaknya. Semisal, orangtua yang telah mempersiapkan segala sesuatunya sedini mungkin, padahal baru akan dilakoni anak beberapa tahun ke depan.
Orang tua yang curi start misalnya memaksa anak harus menguasai baca tulis di usia 3,5 tahun. Dengan harapan dia telah menguasai itu ketika akan masuk sekolah di usia 5-6 tahun.
"Nah curi start ini kurang baik, karena kesulitan yang akan dihadapi anak itu mungkin akan dirasakan dia baru 2 tahun kemudian," jelasnya.
4. Pelayanan kepada anakCiri ini biasanya orang tua akan terburu-buru menyiapkan makan, mengelap anak yang belepotan, menyiapkan handuk anak ketika hendak mandi, dan hal serupa lainnya.
"Jadi dia tidak diberi tanggung jawab untuk melakukan itu sendiri. Padahal sebetulnya anak umur dua tahun sudah bisa mengambil handuk dan bajunya sendiri, selama lingkungan rumahnya mendukung," katanya.
5. Terlalu ingin melindungi anak-anakOrang tua tidak mau anaknya lecet. Biasanya mereka akan banyak titip pesan kepada guru di sekolah, agar anaknya selalu dalam pengawasan guru.
"Nah, kadang-kadang konflik dengan teman itu dibutuhkan asal tidak sampai terlalu membahayakan. Sebab, itu malah menumbuhkan kemampuan anak dalam menyelesaikan konflik," ungkapnya.
(bal)