LANGIT7.ID, Jakarta - Belakangan populer lagu dangdut koplo berjudul "
Ojo Dibandingke" karya musisi asal Boyolali Abah Lala. Lagu tersebut menceritakan tentang kisah cinta yang nelangsa seseorang dibandingkan oleh kekasihnya dengan orang lain. Ironisnya lagi cinta dewasa tersebut dipopulerkan oleh seorang penyanyi cilik
Farel Prayoga.
Budayawan Muslim Arif Wibowo menyebut, hal itu terjadi sebab lagu anak-anak saat ini mengalami kekosongan karya. Baik lagu-lagu umum maupun lagu Islami. Ini menjadi keprihatinan tersendiri dalam dunia seniman musik.
Dia menceritakan, saat masih kecil lagu anak-anak memang tidak banyak, tapi terus diproduksi. Lagu anak-anak terus bermunculan. Jadi akan aneh jika ada anak kecil yang menyanyikan lagu dewasa.
Bukan hanya lagu-lagu umum, saat terjadi arus santrinisasi abangan, mulai bermunculan lagu anak-anak Islam. Album Aulade Gemintangnya Neno Warisman, menurut Arif bisa dicatat sebagai lagu anak-anak Islam yang digarap dengan serius musikalitasnya, sehingga jauh dari kata "recehan".
Baca Juga: Dari Pengamen Pasar hingga Nyanyi di Istana Negara, Ini Perjalanan Hidup Farel Prayoga
“Sebuah karya monumental yang sayang ditinggalkan yang empunya karena lebih tertarik jadi juru kampanye Pemilu,” kata Arif melalui keterangan tertulis, Senin (22/8/2022).
Era Papa T Bob dan naiknya Joshua, lanjut Arif, masih banyak lagu baru untuk anak-anak. Pada era itu juga menghasilkan lagu-lagu bermutu yang dibawakan oleh Sherina Munaf.
“Kondisi sekarang mungkin jauh berbeda. Lagu anak-anak mengalami kekosongan karya. Baik di lagu umum maupun lagu anak-anak Islam,” ucap Arif.
Maka itu, kata dia, tidak perlu kaget dengan kemunculan fenomena seperti Farel yang diundang ke istana negara. Para menteri berani ikut joget karena yang nyanyi anak kecil. Akan beda kalau yang nyanyi Via Vallen atau Dewi Persik.
“Dalam dunia seni dan kebudayaan, yang akan mendapat tempat di masyarakat adalah mereka yang terus bisa melahirkan karya dan mempertandingkannya,” ujar Arif.
Baca Juga: Terpukau Penampilan Farel, Jokowi: Nyanyi Boleh Asal Tak Lupa Belajar
Keterikatan pada produktivitas karya seni dan kebudayaan itu tidak terjadi hanya di kalangan umum, tapi bahkan juga di kalangan muslim dan santri. Banyak di antara muslimah bercadar hingga santri yang di belakang merupakan k-popers atau wibu. Hal itu menurut Arif terjadi karena kosongnya karya seni Islam yang bisa menandingi K-Pop maupun Manga Jepang.
Arif menyebut hingga hari ini, belum banyak seniman dan budayawan muslim yang produktif melahirkan karya seni.
"Siapakah pengganti Buya Hamka saat ini? Adakah generasi penyair yang siap melanjutkan pak Taufiq Ismail dalam berkarya?. Jadi sebelum telunjuk mengarah pada fenomena Farel, perhatikan juga tiga jari yang mengarah pada diri kita sendiri, umat Islam, ” pungkas Arif.
(jqf)