LANGIT7.ID, Jakarta - Selain memiliki jumlah populasi penduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia merupakan konsumen terbesar produk halal. Namun sayang, hal ini tidak diikuti dengan Indonesia sebagai produsen produk halal terbesar di dunia.
Melihat hal ini, milenial muslim asal Surabaya, Dalu Nuzlul Kirom berupaya untuk menghadirkan sebuah inovasi melalui perusahaan rintisannya. Ternaknesia, sebuah platform digital yang dibentuk Dalu yang dalam perkembangannya kini tengah mengupayakan untuk menghadirkan hasil peternakan tanah air sebagai produk halal.
Dalu mengatakan, masa depan negara pada 2045 berada di tangan generasi milenial, maka diperlukan peran aktif milenial untuk memberikan perubahan dan menyelesaikan masalah yang ada. Sehingga amanat dari negara kepada milenial agar bisa melakukan perubahan dapat terwujud.
“Sebagai startup bidang peternakan yang identik dengan hasil ternak, kami saat ini tengah berupaya mendekatkan diri dengan konsep halal. Jadi berbicara hasil daging ternak, selain zat juga proses pemotongannya, kami saat ini sedang mengembangkan traceability halal,” ujarnya di kanal Youtube Bangga Indonesia TV, dikutip Kamis (12/8/2021).
Selain itu, dalam prosesnya nanti melalui aplikasi Ternaknesia yang dihadirkan, maka para pelaku yang terlibat dalam urusan ternak dapat melakukan scan untuk mengetahui asal hewan yang didapatkan, termasuk produk turunannya. Sehingga dari situ dapat dipastikan halalnya seekor hewan ternak maupun produk turunannya.
Selain mendukung Indonesia sebagai produsen produk halal, hal ini juga dilakukan demi menghadirkan sebuah perbedaan dari Ternaknesia, khususnya menjawab kebutuhan produk halal dari hasil ternak.
“Apalagi bahwa Indonesia merupakan konsumen makanan halal terbesar dunia, ironisnya malah tidak masuk 10 besar produsen makanan halal dunia. Ini yang menjadi tantangan bagi kita untuk mengarah ke sana, jadi hulu-hilirnya Insya Allah kami usahakan halal untuk jadi halal paripurna,” jelasnya.
Pendiri sekaligus CEO Ternaknesia ini menjelaskan, perusahaan rintisannya ini merupakan bentuk proyek sociopreneur yang berfokus untuk membantu peternak Indonesia yang membutuhkan bantuan di bidang permodalan, pemasaran, dan manajemen.
Melalui Ternaknesia ini juga investor dapat melihat perkembangan ternak dari kondisi kesehatan sampai berat badan. Dalam perkembangannya pun, Ternaknesia telah menjadi platform pemasaran hasil peternakan yang saat ini sudah membantu peternak di berbagai di seluruh wilayah Indonesia dalam kegiatan tahunan Idul Adha, dan harian melalui produk hasil ternak dari Bojonegoro, Kediri, Banten, Madiun,Pacitan, dan lainnya
Awalnya Ternaknesia beraktivitas menjual hewan kurban pada 2016. Namun ternyata Dalu merugi, dan banyak hewan yang tidak terjual. Setelah menjelaskan hal tersebut kepada investor dan menawari ide untuk mendirikan perusahaan yang bergerak di bidang digital untuk pendanaan seputar peternakan, sebagian dari investor setuju hingga turut mendukung menambahi modal.
“Saya hakikatnya pada saat itu tidak pegang cash, tapi pegang kambing 200 ekor. Sementara dalam penjualan hewan kurban jika sudah tidak laku pada Idul Adha itu merugi, karena harganya jatuh. Berdirilah Ternaknesia pada 2017 sebagai PT, fitur pertamanya adalah crowdfunding untuk pendanaan ke peternak,” jelasnya.
Pemuda muslim yang juga penggagas Gerakan Melukis Harapan ini menuturkan, Ternaknesia juga telah menghadirkan fitur ternak mart yang untuk menjawab kebutuhan pemasaran dari hasil ternak harian, termasuk susu, telur, dan daging hewan ternak yang bersifat harian.
“Kita proses untuk bisa membantu banyak peternak, semakin banyak kita jualan di hilir, semakin banyak peternak yang kita bantu. Jadi sistem kemitraan kami ke peternak adalah dengan memberikan benefit ke mereka dalam bentuk membantu permodalan,” imbuhnya.
Ternaknesia ini merupakan refleksi yang menjawab segala permasalahan dalam sektor peternakan. Namun, fakta di lapangan ternyata milenial banyak yang tidak tertarik dengan dunia peternakan.
Baginya ini merupakan permasalahan krusial, di mana kebutuhan permintaan pangan selalu naik tapi tidak dibarengi dengan peningkatan produsennya. Sehingga perlu kesadaran bersama, khususnya milenial untuk bisa terjun langsung menjawab permasalahan ini.
“Selama manusia makan dari nasi, lauk, produk olahan pangan dari pertanian dan peternakan, maka selama itu pula dunia pertanian dan peternakan dibutuhkan. Kalau pangan kita tidak berdaulat ini berbahaya, ada potensinya besar tapi tidak ada yang menggerakkan. Inilah motif utama kita yang bersifat gerakan, kalau ini murni bisnis insting saya tidak terpanggil, tapi soal kedaulatan pangan maka saya merasa terpanggil untuk terjun,” jelasnya.
(jqf)