LANGIT7.ID - , Jakarta -
Nama ibu kandung kerap menjadi sistem keamanan saat membuat sebuah akun, baik media sosial maupun perbankan. Dalam hal ini, nama ibu kandung biasanya untuk mengkonfirmasi saat akun pribadi mengalami masalah, seperti
peretasan atau lupa
kata sandi.
Salah satu contoh, ketika nasabah bank memiliki masalah pada akun perbankannya, bisa jadi lupa pin atau kehilangan kartu. Jika melapor kepada pihak bank, maka
customer service akan menanyakan nama ibu kandung dari nasabah.
Baca juga: Kebocoran Data Pribadi, Pakar Keamanan Siber: RUU PDP Sangat DitungguMelansir dari Splinter News, Selasa (30/8/2022) pada sistem keamanan lama, orang-orang Barat menganggap nama ibu kandung adalah sesuatu yang sangat jarang diketahui oleh orang lain. Ini merupakan alasan, mengapa nama ibu kandung bisa digunakan sebagai lapisan
keamanan data di internet.
Profesor Universitas Columbia dan Pakar IT, Stephen Bellovin menemukan, pertanyaan rahasia "Siapa nama ibumu?" telah digunakan sejak 1882 sebagai enkripsi keamanan pada saat penemuan Algoritma One Time Pad.
Kendati demikian, penggunaan nama ibu kandung sudah tidak lagi menjadi sistem keamanan utama untuk perlindungan
data pribadi. Pada era serba digital ini, informasi dari setiap orang bisa diakses siapapun dengan mudah, termasuk nama ibu kandung.
Apalagi jika seseorang aktif bermedia sosial. Termasuk para artis atau
selebritas yang riwayat keluarganya terekspos media. Dengan demikian, sistem keamanan data dengan konfirmasi nama ibu, sudah tak seaman dahulu.
Baca juga: Integrasi NIK Jadi NPWP Disebut Berisiko pada Keamanan Data PribadiMengutip dari Tech Target, saat ini mekanisme perlindungan data pribadi di internet sudah menggunakan proses
otentikasi dua langkah (2FA).Sebagai informasi, otentikasi dua faktor merupakan proses keamanan di mana pengguna menyediakan dua faktor otentikasi yang berbeda untuk memverifikasi diri mereka sendiri.
Otentikasi dua faktor memberikan tingkat keamanan lebih tinggi daripada metode otentikasi apapun. Metode otentikasi dua faktor terdiri dari dua lapis keamanan, yakni kata sandi sebagai faktor pertama dan faktor kedua biasanya berupa token keamanan atau biometrik, seperti
sidik jari atau
pemindaian wajah.
Metode otentikasi dua faktor menambahkan lapisan keamanan sehingga mempersulit penyerang untuk mendapatkan akses ke perangkat atau akun online seseorang. Jika kata sandi korban diretas, itu tidak cukup untuk melewati otentikasi pemeriksa.
Baca juga: Perketat Keamanan Perangkat, Apple Luncurkan Lockdown Mode(est)