LANGIT7.ID, Jakarta - Pemerintah baru saja menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi maupun non subsidi. Namun keputusan ini menuai banyak pertanyaan dari masyarakat karena BBM naik di saat harga minyak dunia melandai selama satu bulan terakhir.
Menanggapi hal tersebut, Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani mengatakan, harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) masih tinggi.
"Kami terus melakukan penghitungan dengan harga minyak ICP yang turun ke USD90 atau turun di bawah USD90 (per barel) maka keseluruhan tahun harga rata-rata ICP Indonesia masih di angka USD97 (per barel)," tutur Sri Mulyani, dalam siaran pers di YouTube Sekretariat Presiden, dikutip
Langit7.id, Ahad (4/9/2022).
Menurut Sri Mulyani, besaran subsidi BBM yang perlu disalurkan oleh pemerintah tetap akan membengkak, jika harga ICP mengalami penurunan cukup signifikan. Dengan rata-rata harga tahunan ICP sebesar USD99 per barrel, pemerintah perlu menambah sekitar Rp151 triliun, dari anggaran subsidi energi Rp502 triliun saat ini.
Baca Juga: BBM Resmi Naik, Berikut Perbandingan Harga Pertamina, Shell, dan Vivo"Jadi kalau ICP di USD85 per barel sampai Desember 2022, kenaikan tetap menjadi Rp640 triliun," ujar Sri Mulyani.
Kendati demikian, Sri Mulyani memastikan pemerintah akan terus memantau perkembangan harga ICP karena situasi geopolitik dan proyeksi dunia yang dinamis.
"Jadi sebagian dari belanja yang tadinya untuk subsidi sekarang digunakan untuk memberikan bansos tambahan pada masyarakat. Kita akan pantau dampak inflasi dan pertumbuhan ekonomi serta kemiskinan dari kenaikan BBM," ucapnya.
Pemerintah menyiapkan bantuan sosial, berupa Bantuan Langsung Tunai (BLT) pengalihan subsidi BBM dengan anggaran Rp24,17 triliun yang akan dibagikan kepada 20,6 juta kelompok masyarakat, sebesar Rp600.000 per orang.
Baca Juga: KH Jeje: Meyakini Agama Saja Tidak Cukup Tanpa Memelajari(zhd)