LANGIT7.ID, Jakarta - Ketua Umum
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU),
KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), mengungkapkan, salah satu tujuan forum Religion Twenty (R20) International Summit of Religious Leaders adalah memberikan kontribusi atas masalah-masalah di Forum G20.
Forum G20 merupakan forum kerjasama multilateral yang terdiri dari 19 negara utama dan Uni Eropa (EU). Tahun ini, Indonesia menjadi tuan rumah penyelenggaraan forum G20.
“Kita ingin memanfaatkan momentum G20 yang tahun diselenggarakan dan dipimpin oleh Indonesia untuk mendapatkan manfaat yang lebih besar bagi forum antar tokoh dan pemimpin agama,” kata Gus Yahya dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (6/9/2022).
Baca Juga: PBNU Gagas R20, Forum Pemimpin Agama Se-Dunia Cari Solusi Persoalan Kemanusiaan
Gus Yahya menjelaskan, banyak tema forum G20 relevan dengan masalah yang menjadi fokus dan keprihatinan para pemimpin agama. Maka itu, setelah mencari solusi konflik agama dalam R20, para pemimpin agama akan membicarakan masalah-masalah global.
“Agama-agama ini juga harus berpikir bagaimana agama bisa menjadi bagian dari solusi masalah-masalah global. Kita punya masalah-masalah ekonomi dan politik global, masalah lingkungan hidup, yang semuanya menjadi topik besar di dalam G20,” ujar Gus Yahya.
Menurut Gus Yahya, para pemimpin agama di dunia harus mengambil bagian dalam mencari masalah global tersebut. Langkah itu perlu karena selama ini agama dianggap sebagai akar masalah sosial.
“R20 ini kita rancang sedemikian rupa untuk keperluan-keperluan itu, dan kita mengundang tokoh-tokoh yang paling punya reputasi di dalam topik-topik yang hendak kita bahas,” ujar Gus Yahya.
Baca Juga: Ketum PBNU Dukung Gontor Atasi Kasus Kematian Santri AM
Gus Yahya berharap, keterlibatan R20 dalam G20 bisa memberikan dampak terhadap masalah global saat ini. Dia ingin agama dilihat dari sisi positif, sehingga perdamaian bisa tercipta.
“Kita harus akui, selama berabad-abad, hubungan antar agama sebenarnya hubungan yang saling menyakiti. Maka kita perlu bicarakan tentang hal ini dengan jujur, kita harus sampaikan kebenaran terhadap apa yang terjadi, lalu bicara tentang rekonsiliasi,” ungkap Gus Yahya.
(jqf)