LANGIT7.ID, Jakarta - Bisnis
towing mobil mulai diminati lagi di pasaran. Namun usaha aksesoris kendaraan ini sempat kembang kempis ketika pandemi Covid-19 pada 2020 lalu.
Pemilik usaha towing DN Auto, Agung Lagaligo mengatakan, bisnisnya sekarang mulai berkembang, karena
komunitas atau pehobi sepeda membutuhkan aksesoris ini.
"Ada sekitar 65 persen pelanggan sekarang dari komunitas sepeda," kata Lagaligo kepada
Langit7, Kamis (8/9/2022).
Baca Juga: Indahnya Kaligrafi Kufi Jadi Aksesoris Islami di Body MobilTowing mobil, kata dia, umum dikenal oleh para pehobi. Namun brand ini lebih dikenal dengan nama bummper. Sebab dipasang di bagian depan dan belakang kendaraan tersebut.
Menurut dia, towing mobil dari DN Auto berbeda dengan bummper pada umumnya, apalagi yang dijual di pasaran. Sebab produk handmade miliknya ini terbilang kekar dan kuat dinaiki sampai 3 orang.
"Tiga orang naik kuat kok. Nah ini fungsi utamanya memang untuk menahan benturan supaya tidak langsung mengenai mobil mobil. Tapi banyak modifikasi juga untuk membawa sepeda," ujar dia.
Modal awal untuk bisnis towing mobil, kata dia, pandai mengelas. Selain itu, calon pelaku usaha tersebut harus mendapati supplier besi hollow yang siap bersaing.
Lagaligo mengatakan, modal untuk satu towing berkisar Rp400.000 - Rp500.000. Namun ini belum termasuk ongkos kerja. Kemudian harga jualnya Rp800.000 - Rp1 juta.
Omset bisnis towing DN Auto saat ini sebulannya mencapai Rp10 - Rp15 juta. Pelanggan utamanya lebih banyak dari online dan berbagai daerah.
"Paling banyak dari komunitas. Tapi banyak juga artis dan pejabat yang pesan dan pasang towing dari saya. Alhamdulillah sudah kembali meningkat bisnisnya sekarang setelah PPKM," ujarnya.
(bal)