LANGIT7.ID, Jakarta - Bangsa Arab saat ini sedang terpuruk. Banyak konflik terjadi di mana-mana dari Yaman sampai Suriah, sehingga mereka menjadi bulan-bulanan Israel hingga Amerika.
Hal itu disampaikan oleh Guru Besar Sejarah Islam UIN Jakarta, Prof. Dr. Azyumardi Azra dalam acara peluncuran dan bincang buku "Mengapa Bangsa Arab Terpuruk?" secara daring, dikutip Sabtu (10/9/2022).
Namun yang menjadi masalah, kata Azyumardi, umat Islam Indonesia selalu melihat bangsa Arab secara idealistik dan romantik. Semua dari Arab diklaim bagus. Padahal tidak bisa begitu. Apalagi wilayah Arab amat luas meliputi pinggiran Atlantik yakni Maroko sampai ke Oman.
“Bahasanya bahasa Arab, Islam juga sekitar 90%. Tapi negaranya itu 22. Dan 22 itu tidak bisa berdampingan secara damai, berkelahi terus,” kata Azyumardi.
Baca Juga: Sejarah Konflik Palestina Israel, Perang hingga Akhir Zaman
Negara-negara Arab juga masuk dalam jajaran negara paling miskin di dunia. Tingkat kemiskinan mencapai sembilan juta dan sekarang naik sampai dua kali lipat.
Dia mencontohkan Yaman yang saat ini menjadi negara termiskin. Banyak penduduk di negara itu yang terancam mati kelaparan akibat perang. Di posisi kedua ada Afghanistan, lalu Sudan dan keempat baru Ukraina.
Azyumardi menyebut ada empat penyebab bangsa Arab hari ini terpuruk, di antaranya:
1. Tidak Mau Belajar dari Kesalahan Masa LaluIni poin penting yang harus dipelajari masyarakat Indonesia. Bangsa Arab selalu jatuh di lubang yang sama. Mereka tidak mau membaca sejarah secara jujur, sehingga selalu terperosok ke lubang yang sama.
“Misal di Spanyol, setelah 7 abad berkuasa di Spanyol, Islam itu tergusur. Kenapa bisa? Karena berpecah-belah terus, sehingga yang muncul di Spanyol itu kerajaan-kerajaan kecil yang berperang satu sama lain,” kata Azyumardi.
Hal itu menimbulkan perpecahan. Masyarakat yang terpecah-belah tidak akan bisa maju dan akan dikuasai orang lain atau bangsa lain. Itu mengakibatkan terjadinya inkuisisi.
Baca Juga: Mengenal Syekh Al-Talib, Dipenjara 10 Tahun karena Materi Khutbah
“Di dunia Arab lain tidak terjadi inkuisisi, tapi yang terjadi itu keterpurukan yang berkelanjutan. Itu yang terjadi. Apa faktornya? Tidak mau belajar dari di masa lalu. Mengulangi terus kesalahan-kesalahan di masa lalu,” ungkap Azyumardi.
2. SektarianismePenyebab bangsa Arab terpuruk karena ada faktor bersifat historis yakni faktor yang bersifat kultural dan sosial yaitu sektarianisme. Sektarianisme itu meliputi sektarianisme sosial, budaya, dan keagamaan yang sangat kuat.
Dia mencontohkan sektarianisme religius yang terus berkelanjutan. Masih banyak ditemui konflik antara penganut Syiah dan Sunni. Bahkan, antar sesama kelompok masih sering bertikai, seperti ISIS dan Al-Qaeda.
“Seperti religio sektarianisme yang terus berkelanjutan, bahkan konflik kelompok sunni dengan kelompok sunni lain,” ujar Azyumardi.
3. Konflik PolitikBangsa Arab juga selalu menghadapi konflik politik. Itu juga terkait sektarianisme religius. Bahkan bukan saat ini saja, tapi sudah berlangsung sejak Rasulullah SAW wafat.
“Saya mengatakan, Nabi Muhammad Saw masih ada di sekitar, baru meninggal, tapi Muhajirin dan Anshar sudah berkelahi berebut jabatan, siapa yang menggantikan Rasulullah sebagai pemimpin umat di Madinah? Akhirnya, Umar bilang berbaiat kepada Abu Bakar. Baru kemudian diam,” kata Azyumardi.
Baca Juga: Mengintip Bagian Dalam Kakbah, Cuma Orang Penting yang Boleh Masuk
Bahkan, saat pada era khulafaur rasyidin juga terjadi perang jamal, yakni perang antara menantu dan mertua. Perang Jamal adalah pertempuran yang terjadi antara Khalifah Ali Bin Abi Thalib dan Ibunda Aisyah RA. Setelah itu ada pula perang Shiffin.
“Jadi yang dimainkan sejak awal itu, saya menghabisi atau saya dihabisi. Itu yang terjadi. Umat Islam harus mengakui itu. Jangan melihatnya serba romantik,” ucap Azyumardi.
4. Faktor IsraelSejak Israel menduduki Palestina pada 1948, bangsa Arab selalu kalah saat berhadapan dengan zionis. Kekalahan bangsa Arab itu menimbulkan korban, yang tak lain adalah bangsa Palestina.
“Sehingga Yasser Arafat bilang, musuh yang menghancurkan kita itu bukan hanya Israel, tapi juga negara-negara Arab. Itu faktor-faktornya. Orang Islam Indonesia itu kan sering terpesona dengan Arab,” ujar Azyumardi.
Indonesia Harus Belajar agar tidak Terpuruk JugaAzyumardi mengatakan, Indonesia harus belajar dari keterpurukan bangsa Arab agar tidak ikut terpuruk juga. Indonesia masih punya harapan, karena masih bisa mengamalkan Islam washatiyah.
“Tapi harapannya, pertama, jangan gaduh. Jangan bikin kekacauan. Boleh berbeda, tapi jangan berkelahi. Itu yang paling penting,” ujar Azyumardi.
Menurut dia, mayoritas penduduk Indonesia adalah muslim. Itu sudah diakui seluruh dunia. Bahkan, karakter umat Islam di Indonesia sangat damai dan menjunjung tinggi toleransi serta sangat religius.
“Karena penduduknya mayoritas muslim, maka nanti bisa mengklaim kemajuan, apalagi 2045 Indonesia bisa menjadi negara terkuat secara ekonomi. Itu bisa mengklaim bahwa kemajuan Indonesia itu karena
Islamic etos,” pungkas Azyumardi.
(jqf)