LANGIT7.ID, Jakarta - Sekretaris Umum
PP Muhammadiyah,
Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed, menilai ada empat masalah besar yang kini tengah dihadapi umat Islam di Indonesia.
Menurutnya, masalah paling mendasar adalah kualitas sumber daya manusia di kalangan umat Islam. Masalah itu bisa dilihat dari dua faktor yakni kualitas lembaga pendidikan Islam dan kualitas ekonomi umat.
“Kualitas ekonomi itu terkait dengan problem kesejahteraan di kalangan umat,” kata Prof Mu’ti saat ditemui
LANGIT7.ID di Kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ciputat, Tangerang Selatan, Rabu (14/9/2022).
Ketiga, ada segregasi di kalangan umat Islam. Segregasi itu muncul sekarang ini terlihat semakin menguat. Itu dipengaruhi berbagai kepentingan politik dan ekses perkembangan dunia global. Segregasi umat ini juga mulai semakin terasa dengan adanya media sosial.
Baca Juga: Sekum Muhammadiyah: Umat Islam Terpecah Belah, Kehilangan Sosok Pemersatu
“Penggunaan media sosial, yang ternyata menjadi satu masalah dan tantangan tersendiri. Sehingga, sering kita temukan berbagai macam tayangan yang isinya menyerang kelompok lain yang berbeda. Dan itu memang satu faktor yang membuat umat ini menjadi mudah terpecah belah, tidak punya
leadership yang kuat,” ujar Guru Besar Pendidikan Islam UIN Jakarta itu.
Dia menjelaskan, ada realitas generasi di kalangan umat Islam mengalami konvergensi alias semakin netral. Termasuk konvergensi politik dan konvergensi keagamaan. Dia mencontohkan, sentimen primordial berbasis organisasi di kalangan generasi muda sekarang ini sudah tidak sekuat generasi tua.
“Konvergensi itu sebagian merupakan dampak dari pendidikan, terutama ketika memang generasi muda itu mengenyam pendidikan di lembaga pendidikan yang sama. Mereka belajar dari guru yang sama. Mungkin juga ada interaksi sosial yang lebih inklusif di antara kelompok masyarakat yang berbeda,” ujar Prof Mu’ti.
Baca Juga: Problematika Umat Menurut UAS: Krisis Jahil dalam Agama, Ekonomi, dan Politik
Menurut Mu’ti, kecenderungan kaum muda tidak mau terafiliasi ke ormas Islam tertentu, seperti Muhammadiyah dan NU, berpotensi melahirkan keislaman yang eksklusif. Tidak memilih NU ataupun Muhammadiyah, tapi menjadi kelompok atau
firqah sendiri.
“Tapi, saya kira faktor pendidikan dan faktor interaksi eksklusif yang menjadi salah satu penyebab yang melahirkan konvergensi sosial keagamaan di antara umat Islam” ujar Prof Mu’ti.
Keempat, umat Islam masih terpecah belah sebab kehilangan sosok pemersatu. Dia menilai salah satu masalah besar umat Islam saat ini adalah tidak memiliki sosok tokoh yang bisa menjadi pemersatu.
Baca Juga: Rahasia Muhammadiyah Sukses Kelola Puluhan Ribu Amal Usaha
“Sekarang ini, umat Islam tidak memiliki figur pemersatu. Artinya, tokoh yang bisa diterima oleh sebagian besar kalangan umat Islam, itu menjadi satu masalah yang sekarang terasa semakin serius,” kata Prof Mu’ti
Meski begitu, Prof Mu’ti menilai ada perkembangan yang cukup menggembirakan di kalangan umat Islam, yakni pada sektor ekonomi. Saat ini, kelas menengah ke atas dari kalangan umat Islam semakin meningkat.
“Walaupun di satu sisi kita melihat satu perkembangan yang cukup menggembirakan, sejarah kelas ekonomi, kelas menengah umat Islam ini jumlahnya terus meningkat, lembaga pendidikan islam sudah mulai meningkat pada posisi medioker gitu, bahkan masuk kategori elit,” ujar Prof Mu’ti.
(jqf)