LANGIT7.ID, Jakarta -
Muhammadiyah dikenal sebagai organisasi yang memiliki puluhan ribu amal usaha. Mulai dari lembaga pendidikan tingkat taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi, rumah sakit hingga panti asuhan tersebar di seluruh Indonesia bahkan luar negeri. Seluruh amal usaha itu, memiliki kualitas yang tak perlu diragukan.
Sekretaris Umum PP Muhammadiyah,
Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed, mengungkapkan, ada empat dasar kekuatan amal usaha Muhammadiyah, sehingga bisa terus berkembang dengan berbagai inovasi.
Pertama, amal usaha
Muhammadiyah merupakan aktualisasi dari amal shalih. Amal shalih tidak sekadar bersifat ritual saja, tapi juga bersifat sosial. Kedua, amal shalih Muhammadiyah merupakan institusionalisasi amal shalih. Artinya, amal shalih itu perlu dilembagakan.
Baca Juga: Muhammadiyah Miliki 27.820 Sekolah dan Kampus di Dalam dan Luar Negeri
“Karena dia merupakan lembaga, jadi dia ada
governance, tata kelola, minimal tata kelolah itu dilihat dari struktur,” kata Abdul Mu’ti saat berbincang dengan LANGIT7.ID di Kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ciputat, Tangerang Selatan, Rabu (14/9/2022).
Ketiga, amal usaha Muhammadiyah merupakan bagian dari konkretisasi amal shalih. Selama ini amal shalih dimaknai abstrak. Maka itu, amal usaha itu diwujudkan dalam bentuk lembaga yang berkiprah di tengah masyarakat dan dirasakan manfaatnya secara luas.
Keempat, objektifikasi amal shalih. Muhammadiyah berusaha menjadikan amal shalih sebagai institusi yang memiliki keunggulan, sehingga bisa diterima semua kalangan.
“Sehingga, amal usaha Muhammadiyah tidak bisa hanya dilihat dari sisi wujud, fisiknya. Tapi wujud fisik memiliki spirit, yang spirit itu ada pada pemaknaan, paling tidak konsep atau tafsir atas amal shalih,” ujar Prof Mu’ti.
Baca Juga: Orientasi Membangun Pusat Keunggulan jadi DNA Warga Muhammadiyah
Namun empat poin tersebut didasari oleh iman. Iman menjadi kekuatan besar, sehingga masyarakat mau mewakafkan dan menginfakkan harta serta mengikhlaskan waktu untuk aktif di Muhammadiyah.
Kemudian, amal usaha itu juga dibangun atas prinsip ihsan. Ihsan meniscayakan suatu amaliyah tidak asal jadi saja atau sekadar formalitas belaka. Tapi, melakukan sesuatu yang berorientasi pada kualitas.
Prinsip lain yang menjadi kekuatan amal usaha Muhammadiyah adalah amanah. Muhammadiyah memiliki kekuatan dari sisi transparansi, akuntabilitas, dan responsibility atau tanggung jawab.
“Di Muhammadiyah sudah ada sistem yang menjadi bagian dari pranata dan bagian dari budaya yang dijadikan kekuatan untuk mengembangkan amal usaha,” ujar Prof Mu’ti.
Hal tersebut yang menjadi kunci, sehingga orang di luar Muhammadiyah pun mempercayakan wakaf hingga pendidikan mereka ke organisasi yang didirikan KH Ahmad Dahlah tersebut.
Baca Juga: Sekum Muhammadiyah: Umat Islam Terpecah Belah, Kehilangan Sosok Pemersatu
“Mereka mau melakukan itu karena kita berusaha bekerja dengan profesional, tata kelolah menjadi bagian kunci keberhasilan,” ujar Prof Mu’ti.
Selain itu, Muhammadiyah juga terus berupaya membangun kerjasama sebanyak mungkin dengan kekuatan yang ada di masyarakat. Itu merupakan aktualisasi dari prinsip jamaah.
“Jadi, prinsip jamaah tidak hanya dimaknai jamaah dalam pengertian ketika melaksanakan shalat. Tapi, jamaah juga bisa berarti
partnership. Sehingga, karena itu, Muhammadiyah bisa terus berkembang, dan memberikan pelayanan yang bermanfaat kepada masyarakat,” ungkap Prof Mu’ti.
(jqf)