LANGIT7.ID, Jakarta - Sekretaris Umum
PP Muhammadiyah,
Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed menilai salah satu masalah besar umat Islam saat ini adalah terpecah belah sebab tidak memiliki sosok tokoh yang bisa menjadi pemersatu.
“Sekarang ini, umat Islam tidak memiliki figur pemersatu. Artinya, tokoh yang bisa diterima oleh sebagian besar kalangan umat Islam, itu menjadi satu masalah yang sekarang terasa semakin serius,” kata Prof Mu’ti saat ditemui LANGIT7.ID di Kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ciputat, Tangerang Selatan, Rabu (14/9/2022).
Sebenarnya, dalam sejarah Indonesia, umat Islam pernah memiliki tokoh pemersatu yang bisa diterima sebagian besar kalangan umat Islam. Mu’ti mencontohkan
Buya Hamka. Semua orang tahu Buya Hamka adalah tokoh Muhammadiyah, tapi dia bisa diterima oleh kalangan Nahdlatul Ulama (NU) hingga Persis.
Baca Juga: Persis: Perpecahan Umat Islam di Indonesia Merupakan Warisan Penjajah
“Sehingga ketika pertama MUI dibentuk, mereka sepakat bulat memilih Buya Hamka sebagai ketua umum,” kata Prof Mu’ti.
Sifat keagamaan yang moderat menjadi salah satu faktor Buya Hamka bisa menduduki posisi itu. Meski tokoh Muhammadiyah, tapi mayoritas umat Islam bisa menerima Buya Hamka sebagai sosok ulama.
“Bagaimana seorang bisa menerima Buya dengan segala ke-ulamaannya, kepribadian, sikap-sikap yang bisa diterima hampir seluruh umat Islam. Bahkan di Malaysia juga sangat populer,” ujar Prof Abdul Mu’ti.
Saat ini, menurut Abdul Mu'ti sebenarnya ada sosok pemersatu namun figurnya tak sekuat Buya Hamka. Beliau adalah Jusuf Kalla (JK) , Mantan Wakil Presiden Indonesia. Meski JK adalah tokoh NU dan politikus Golkar. Tapi penerimaan umat Islam dari berbagai kalangan cukup baik.
Baca Juga: 3 Cara Mendidik untuk Lahirkan Generasi Hamka Masa Kini"Dia bisa diterima oleh kalangan Muhammadiyah, NU, dan semua ormas Islam. Sehingga dengan memimpin DMI, berhimpun tokoh dari kalangan berbeda-beda,” ucap Prof Mu’ti.
Hanya saja berbeda dengan Buya Hamka yang memiliki kekuatan keulamaan, JK memiliki kekuatan di bidang politik umat.
“Pak JK punya kelebihan dalam bidang leadership dalam kaitan politik umat. Ini yang memang bisa jadi contoh,” ujar Prof Mu’ti.
Lalu ada pula mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin. Sosok Din juga memiliki penerimaan cukup baik di berbagai kalangan umat. Saat memimpin MUI, dia bisa merangkul ormas Islam sebanyak mungkin.
Baca Juga: 3 Cara Mewujudkan Persatuan Islam dalam Bingkai Ukhuwah Islamiyah
“Walaupun selalu saja, karena dalam beberapa hal ada sikap-sikap politik tertentu yang orang tidak setuju, sehingga sebagian ada yang belum menerima Pak Din,” ujar Prof Mu’ti.
(jqf)