LANGIT7.ID, Jakarta - UMKM memberikan sumbangan 60 persen terhadap Pendapatan Domestik Bruto (PDB), dan 97 persen menyerap tenaga kerja di sektor UMKM. Namun, dari jumlah tersebut baru sekitar 21 persen yang telah terdigitalisasi.
Presiden Grab Indonesia, Ridzki Kramadibrata mengatakan, selama pandemi setidaknya sudah lebih dari 600 ribu UMKM yang tergabung dengan Grab. Sehingga hal tersebut juga mendukung visi dari Grab untuk mengakselerasi UMKM agar segera go digital.
Baca juga:
Kemenkop UKM Usul Tambahan Pembiayaan untuk Agregator di Sektor PertanianSelama tiga tahun mitra Grab yang terdiri dari UMKM, pengemudi, merchant, agen, secara kolektif menghasilkan pendapatan lebih dari Rp92 triliun. Dengan menjadi platform teknologi pemberdayaan yang diandalkan, Grab terus mendukung peralihan kepada UMKM terkait transformasi digital.
“Kolaborasi adalah kunci kesuksesan bersama. Kami bermitra dengan stakeholders terkait agar konsumen bisa menikmati pengalaman ekosistem teknologi yang ada, termasuk bagi para UMKM. Kita semua menyadari saat ini dan masa datang, inklusi digital untuk merangkul semua dalam digitalisasi dalah kunci utama menjangkau beragam segmen konsumen,” jelasnya di Webinar Sinergi Industri Jasa Keuangan dan Teknologi untuk Mendorong Digitalisasi UMKM dalam Rangka Ekonomi Digital, Jumat (13/8).
Pandemi yang merubah pola dan kebiasaan masyarakat dalam peralihan terhadap platform digital, perlu ditangkap UMKM sebagai peluang target pasar. Di mana, penggunaan layanan jasa antar lebih banyak diandalkan untuk mendapatkan kebutuhan sehari-hari konsumen.
“Pertama kita harus fokus kepada konsumen atau pengguna, artinya kita perlu beradaptasi juga di mana konsumen menuntut pelayanan sesusai dengan protokol kesehatan. Kita coba hadirkan dua layanan yang menjadi andalan konsumen dan UMKM, yaitu grabmart dan grabjastip,” ujarnya.
Baca juga:
Kemenkop UKM Targetkan 30 Juta UMKM Go Digital Tahun 2024Grabmart adalah bentuk layanan pembelian kebutuhan sehari-hari. Sementara grabjastip adalah layanan jasa titipan kepada mitra pengemudi untuk membeli atau mendapatkan barang yang dibutuhkan tapi tidak termasuk dalam list grabmart, sehingga pengemudi bisa menjadi pemberi layanan jasa titipan.
“Dampaknya akan dirasakan oleh UMKM untuk mendapatkan akses ke lebih banyak pelanggan. Layanan baru ini juga memberikan sumber pendapatan baru untuk mitra pengemudi grabbike dan grabcar. Ini menunjukkan teknologi yang bisa membantu beberapa pihak sekaligus, termasuk konsumen, pengemudi, dan merchant,” jelasnya.
(zul)