LANGIT7.ID, Jakarta -
Generasi muda diharap bisa menghindari 10 kata yang bersifat racun atau toxic. Kata-kata ini memang kerap diucapkan di
media sosial dan umum dikenal publik.
Guru Besar Universitas Indonesia (UI),
Rhenald Kasali, berpesan agar generasi muda mewaspadai dengan 10 kata-kata toxic tersebut.
"Waspada dengan kata-kata ini," kata Rhenald saat mengisi kuliah umum bagi 10.000 Mahasiswa Baru
Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dikutip Ahad (18/9/2022).
Kata toxic pertama adalah cuan atau istilah lain dari uang. Banyak anak muda yang selalu berorientasi dengan cuan, sehingga dianggap mata duitan.
Baca Juga: Tahayul hingga Kalimat Tauhid, Ini 11 Wasiat Taufik Ismail ke Generasi Muda"Kalau sodara mengejar uang, mata duitan, saudara berpikir jangka pendek. Jangan sampai saudara apa-apa cuan, ini berbahaya!" ujarnya.
Kata toxic kedua adalah passion atau berkaitan dengan minat. Menurut dia passion itu bukan sekadar minat atau hobi, tetapi sesuai etimologi artinya kesetiaan atau passionate.
"Kalau saudara hanya mengerjakan yang passion saja, jangan pikir saudara bisa sukses hanya dengan passion. Passion itu artinya adalah kesetiaan untuk berkorban. Kesetiaan untuk bekerja keras," ujarnya.
Kata toxic ketiga adalah insecure atau tidak percaya diri. "Sekarang apa-apa insecure. Hati-hati, jangan terbawa arus. Cemas boleh, tapi insecure, jangan. Masa depan saudara masih panjang," kataya.
Kata toxic keempat adalah Quarter Life Crisis, atau krisis diri di usia 25 tahun. Anak muda diharapkan Rhenald untuk tidak terbawa arus kata-kata itu.
"Karena secara umum usia 25 tahun wajar jika masih belum punya prestasi apapun. Saudara tidak harus cepat-cepat kaya. Kalau ingin cepat kaya, (seperti kasus) menipu orang dengan cara flexing (pamer kemewahan)," ujarnya.
Kata toxic kelima adalah hustle culture atau tekanan untuk bekerja lebih banyak dan lebih sibuk dari yang lain bahkan dianggap hal yang normal-normal saja.
Kata toxic keenam adalah menuduh tempat kerjanya sebagai toxic workplace. Rhenald berpesan agar anak muda tidak sembarangan mengeluh di media sosial karena bisa jadi jejak digital dan alat untuk membunuh masa depan.
"Dulu pepatah mulutmu harimaumu, hari ini jarimu harimaumu. Sembarangan menulis di WA, di-scan oleh temanmu, disebarkan ke tempat lain, saudara tidak punya masa depan," ujar dia.
Kata toxic ketujuh dan kedelapan, adalah passive income atau pendapatan pasif dan financial freedom atau kemerdekaan keuangan.
Menurut Rhenald, kata ini belum pantas diucapkan karena usia muda adalah usia untuk bekerja keras Kata toxic kesembilan adalah smart work atau kerja cerdas.
Anak muda disarankan Rhenald untuk tidak terpaku pada langkah smart, tapi juga langkah hard. Sedangkan kata toxic kesepuluh adalah privilege atau hak istimewa.
"Betul, tapi tidak semua orang punya privilege. Jangan tangisi karena setiap orang punya sejarah masing-masing dan menjalani kehidupan yang berbeda. Jadi ini semua adalah toxic words. Hati-hati," pesan Rhenald.
(bal)