LANGIT7.ID - , Jakarta - Almarhum
Azyumardi Azra dikenal sebagai sosok akademisi yang produktif dalam menuangkan pemikiran-pemikirannya ke dalam buku. Sejumlah tokoh Indonesia mengenang almarhum Ketua
Dewan Pers ini sebagai pribadi yang banyak berkontribusi dalam pemikiran-pemikiran Islam di Tanah Air.
Wakil Presiden RI ke-10 dan 12
Jusuf Kalla menyebut mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah itu sebagai cendekiawan yang peduli pada kehidupan masyarakat Indonesia. Perhatiannya tersebut kemudian banyak disampaikan dalam berbagai forum dan tulisan.
Baca juga: Usai Disalatkan, Jenazah Azyumardi Azra Diberangkatkan ke TMP Kalibata"Sehingga pemikirannya sangat berpengaruh dalam kehidupan sosial kita," kata JK dikutip dari Antara, Selasa (20/9/2022).
Sementara Ketua Umum DPP Partai Gerindra
Prabowo Subianto melihat Azyumardi sebagai sosok yang mengedepankan Islam moderat, sejuk, dan rahmatan
lil alamin. "Beliau selalu mengutamakan moderasi, toleransi, dan sifat yang inklusif," kata Prabowo melalui keterangan tertulis.
Senada dengan hal itu, Gubernur DKI Jakarta
Anies Baswedan mengenang Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu sebagai pribadi yang konsisten merawat demokrasi di Indonesia tetap berkualitas.
"Almarhum adalah pribadi yang terus menerus konsisten dalam menjaga agar Indonesia kita tetap negeri yang maju dan demokrasi, yang terkonsolidasi," ujar Anies usai menyalatkan jenazah di Auditorium Harun Nasution UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Baca juga: Urutan Waktu Jenazah Prof Azyumardi Azra Tiba di Jakarta hingga Proses PemakamanProf Azra
meninggal dunia pada Ahad (18/9/2022) di RS Serdang, Selangor,
Malaysia. Almarhum meninggal dalam usia 67 tahun akibat gangguan kesehatan yang dialaminya saaat kunjungan kerja di Malaysia. Jenazah dimakamkan di Taman Makam Pahlawan pada Selasa (20/9/2022).
Mengutip dari laman resmi UIN Jakarta, wafatnya Prof Azra menjadi kehilangan besar sivitas akademik UIN Jakarta. Di mana digambarkan Prof Azra banyak melakukan sejumlah pengembangan universitas dengan ide-ide konstruktif dan dedikatif.
Salah satunya adalah mendorong transformasi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syarif Hidayatullah menjadi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta dan menjadi UIN pertama di Indonesia.
Perubahan ini didasari mimpinya agar PTKIN bisa lebih kompetitif dan memberikan peluang luas bagi lulusan madrasah, pesantren, maupun sekolah lainnya dalam meraih cita-cita mereka.
(est)