LANGIT7.ID, Jakarta - Langit Makkah yang dihiasi dengan sinar yang menampilkan tulisan ayat pertama
Surat Al Alaq. Cahaya bertuliskan ayat Al Quran itu menarik perhatian masyarakat.
Sinar laser bertuliskan ayat
Al-Quran itu berada di atas distrik Jabal Nur. Tepatnya 4 kilometer timur laut dari Masjidil Haram di Makkah.
Direktur Pusat Sejarah Makkah, Fawaz Al-Dahas mengatakan, secara umum Jabal Nur memiliki nilai sejarah bagi umat Islam. Juga merupakan salah satu situs sejarah dan arkeologi terpenting di
Makkah.
“Dalam sejarah disebut Gunung Hira, tetapi dinamai Jabal Al-Noor (Gunung Cahaya) karena mengacu pada cahaya yang memancar ke seluruh bumi setelah ayat pertama Al-Quran diwahyukan," ungkapnya seperti dilansir
ArabNews, Rabu (28/9/2022).
Baca Juga: Bacaan Surat Al Alaq 1-19, Lengkap dengan Latin dan TerjemahanMenurutnya, salah satu perbedaan antara Mekkah dan kota lain di dunia adalah konsep museumnya yang terbuka. Makna sejarah di Makkah bisa dilihat dari seluruh gunung, lembah, batu, dan makam.
"Semua itu mewakili sejarah yang unik, menceritakan kisah-kisah abadi tentang Nabi dan para sahabatnya yang terhormat," jelasnya
Menurut salah seorang penduduk, Abdullah Al-Azhari, sinar laser yang menampilkan ayat pertama dari surat Al Alaq itu disebut akan menghadirkan dimensi spiritual dan menambah prestise.
Adapun hal tersebut masuk dalam visi Arab Saudi 2030. Dengan tujuan memperkaya pengalaman keagamaan dan budaya bagi pengunjung, terutama di situs-situs yang memiliki sejarah penting bagi umat Islam.
Sebagai informasi, pameran laser itu diselenggarakan oleh Samaya Investment Co., yang juga membangun dua proyek budaya di Makkah, yaitu Museum Wahyu di Jabal Al-Noor dan Museum Migrasi.
Pusat budaya ini bertujuan untuk memperkenalkan pengunjung kepada sejarah dan warisan Nabi. Hal itu dilakukan melalui presentasi dari era pra-Islam hingga saat ini.
Di bawah pengawasan langsung Komisi Kerajaan untuk Kota Makkah dan Tempat Suci serta lembaga lainnya, pekerjaan tersebut dimulai untuk mendirikan Distrik Budaya Hira (Hira Cultural District) di atas lahan seluas lebih dari 67.000 meter persegi.
Seorang penduduk setempat, Mohammed Al-Hussaini, meyakini proyek budaya tersebut akan menjadi tempat yang lebih terorganisir dan memiliki tampilan beradab.
“Kami sangat menantikan selesainya keseluruhan proyek yang akan mencerminkan spiritual, sosial dan budaya di tempat itu," tambahnya.
(bal)