LANGIT7.ID - , Jakarta -
Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) terus berupaya mendukung pemerintah dalam mewujudkan
pengurangan emisi untuk lingkungan yang lebih sehat.
Target penurunan emisi tersebut termasuk dari sektor energi dan
Industrial Process and Product Uses (IPPU) sebesar 15.8 persen pada 2030 dan mendukung aspirasi
Net Zero Emission Pemerintah Indonesia pada 2060.
Baca juga: Di KTT COP26, Momentum PLN Tunjukkan Program Dekarbonisasi RI ke Mata DuniaDalam upaya ini, BUMN Holding saling bekerja sama untuk mewujudkannya. Berikut 5 cara
dekarbonisasi atau proses mengurangi emisi karbon yang dilakukan Kementerian BUMN.
1. MSOE Carbon Market
Wakil Menteri BUMN I, Pahala Nugraha Mansury mengatakan, langkah pertama Kementerian BUMN dalam mewujudkan Net Zero Emission adalah dengan mengombinasikan peralihan bahan bakar, efisiensi produksi hingga
carbon offset.
"Kalau misalnya perusahaan pembangkit listrik di Indonesia tidak mencapai target penurunan emisi, mereka harus membeli
carbon offset. Setelah itu jika belum mencapai target juga, mereka akan dibebankan dengan
carbon ex," kata Nugraha, dalam acara Indonesia Millennial dan Gen-Z Summit IMGS 2022, Jakarta, Kamis (29/9/2022).
Nugraha menegaskan, setiap sektor harus berupaya menurunkan emisi. "Ini harusnya bisa dicapai. Maunya kita bekerja sama juga dengan Jakarta Stock Exchange atau IDX untuk bisa membangun platform perdagangan carbon offset, tapi ini prosesnya panjang," ucap Nugraha.
Baca juga: Menuju Net Zero Emission, Kemenperin Kembangkan Teknologi Swab Battery
2. Sustainable Industrial Cluster
Menurut Nugraha, permintaan listrik industri di Indonesia lebih besar daripada kebutuhan rumah tangga. Oleh karena itu, Kementerian BUMN ingin membangun Industrial Cluster yang lebih ramah lingkungan.
"Permintaan listrik tersebut membuang karbon banyak jadi bagaimana kita membangun Green Industrial Cluster. Itu supaya energinya berbasis ramah lingkungan. Ini bisa menjadi masa depan lebih bersih," tutur Nugraha.
3. Maximize the Country’s NBS Potential
Pertamina Power Indonesia dan Perum Perhutani bersinergi untuk mempercepat pencapaian Net Zero Emission di lingkungan Kementerian BUMN dengan mengembangkan proyek Nature-Based Solution (NBS).
Nugraha menuturkan, upaya ini dilakukan melalui skema pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan (REDD).
Baca juga: Anies Baswedan Resmikan Sekolah Net Zero, Apa Itu?"Indonesia punya 172 juta hektar (hutan), sementara itu Perhutani mengelola sekitar 3,7 juta hektar hutan. Kita akan mulai kerja sama dengan Pertamina untuk melestarikan hutan. Jadi, dari Pertamina dan BUMN lainnya bisa investasi di sini untuk tidak melakukan eksploitasi hutan sehingga menghasilkan lebih kecil karbon," kata Nugraha.
4. Scale-up EV Adoption
Lebih lanjut, Nugraha mengatakan, nantinya orang Indonesia ditargetkan akan beradaptasi dengan kendaraan listrik dari sebelumnya menggunakan mobil atau motor bermesin BBM.
"Sebab, masyarakat yang nantinya menggunakan kendaraan listrik bisa mendapatkan saving money sebesar Rp1,5 juta per tahunnya. Kita Kementerian BUMN juga akan menyesuaikan adaptasi itu dengan membangun EV Ecosystem seperti menyediakan charging station,"
Baca juga: Udara Jakarta Buruk, Warga Diimbau Uji Emisi Kendaraan 6 Bulan SekaliMenurut Nugraha, ini akan memberikan manfaat bagi masyarakat secara ekonomi serta para pebisnis.
"Oleh karena itu kita melakukan kerja sama dengan sejumlah holding untuk menyediakan ekosistem EV lainnya, seperti swapping station untuk para ojek online," tutur Nugraha.
5. Increasing Portion of NRE in National’s Energy Mix
Langkah terakhir berupa meningkatkan porsi energi terbarukan dalam bauran energi nasional. Hal ini untuk menahan kenaikan suhu global.
Nugraha menuturkan, masing-masing BUMN harus melihat energi yang paling berpotensi di Indonesia, salah satunya Biomassa.
"Jadi dalam menurunkan emisi tidak semata-mata hanya kendaraan listrik. Harusnya bagaimana bisa mencapur energi, seperti B30 dan B40," tuturnya.
Sebagaai informasi, B30 dan B40 merupakan bahan bakar nabati berupa campuran antara biodiesel dan solar. B30 (Biodiesel 30) adalah campuran antara 30 persen biodiesel dan 70 persen solar. Sementara B40 (Biodiesel 40) campuran 40 persen biodiesel dan 60 persen solar.
(est)