LANGIT7.ID, Jakarta - Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indonesia (LSI), Djayadi Hanan, mengutarakan, salah satu tantangan utama partai Islam saat ini adalah tidak adanya tokoh nasional dalam tubuh partai.
Tingkat popularitas ketua umum di partai-partai Islam seperti Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Amanat Nasional (PAN), dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) di bawah 50%.
“Tidak ada satupun ketua umum Partai Islam yang memiliki tingkat popularitas di atas 50%, termasuk Gus Muhaimin. Ini data Juni-Juli 2022. Itu belum bisa disebut tokoh nasional kalau berbicara statistik,” kata Hanan dalam webinar yang digelar ICMI, Kamis (29/9/2022).
Baca Juga: LSI Ungkap Tantangan dan Peluang bagi Parpol Islam di Pemilu 2024
Ketua Umum PKB, Muhaimin Iskandar, tingkat popularitasnya hanya 36,1%, Ketua Umum PAN, Zulkifli Hasan, hanya 24,4%, eks Ketua Umum PPP, Suharso Monoarfa, hanya 11,2%, dan Ketua Umum PKS, Ahmad Syaikhu, hanya 8,1%.
“Memang kalau kita berbicara tokoh utama partai Islam, terutama ketua umum, memang belum ada yang menasional. Itu tantangan yang harus dijawab partai-partai Islam,” kata Hanan.
Fakta tersebut membuat masyarakat muslim di Indonesia menitikberatkan pilihan kepada tokoh-tokoh yang memiliki popularitas tinggi, dan dianggap mampu membawa aspirasi umat Islam. Di antaranya Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan.
Dalam survei LSI Agustus 2022 lalu, sebanyak 75% pemilih PKS mendukung Anies Baswedan, 18,5% mendukung Prabowo Subianto, dan 6,2% menjagokan Ganjar Pranowo.
Baca Juga: PKB Sebut Harus Ada Tokoh Islam yang Jamin Masa Depan Politik Umat
Sementara pemilih PKB lebih mengunggulkan Prabowo Subianto sebanyak 36,1%, Ganjar Pranowo 30,4%, dan Anies Baswedan 25,3%. Sedangkan, 35,5% pemilih PPP mendukung Ganjar Pranowo, Prabowo 31,1%, dan Anies Baswedan 24,7%.
45,5% pendukung PAN memilih Prabowo Subianto, Anies Baswedan 43,3%, dan Ganjar Pranowo 6,9%.
Hanan lalu mengingatkan agar partai-partai Islam cermat dalam menentukan dukungan pada Pilpres mendatang. Ini agar tidak mendapat
negative coattail effect.
“Ini sebuah simulasi yang bisa kita lihat, menjadi contoh bagaimana partai-partai Islam harus melihat negatif atau positif
coattail effect itu dalam proses pencalonan presiden dan Wakil presiden untuk 2024 nanti,” ujar Hanan.
Baca Juga: PAN Sebut Peta Politik Umat Islam Penting di Pemilu 2024
Ini karena tidak semua partai mendapatkan efek positif
coattail effect saat mendukung capres tertentu. Pengalaman Pilpres 2019 di kubu Jokowi-Ma'ruf misalnya, partai yang mendapatkan sisi positif efek rekor jas adalah PKB, PDIP, dan NasDem.
“Yang lain cenderung tidak memiliki efek positif atau negatif,” ujar Hanan. Namun, ada dua partai pengusung Jokowi-Ma’ruf yang mendapat
negative coattail effect, yaitu PPP dan PBB. Semakin tinggi suara Jokowi, semakin rendah perolehan suara PPP dan PBB.
(jqf)