LANGIT7.ID, Yogyakarta - Edi Mulyono, pegiat literasi dan pemilik sejumlah kafe di Yogyakarta menggratiskan makan dan minum di kafenya pada 8 Oktober 2022 Atau bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Ada tiga kafe yang dia kelola dan tersebar di Yogyakarta. Ada Kafe Basabasi di Yogyakarta. Kafe memiliki beberapa cabang seperti Kafe Basabasi Sorowajan di Bantul, KAFE basabasi Nologaten di Sleman, KAFE basabasi Concat di Sleman, Kafe Basabasi Tamantirto UMY di Bantul, Kafe Basabasi Timoho APMD, dan KAFE basabasi Kragilan (UAD Terpadu).
Kemudian ada Kafe Mainmaindan Kafe Lehaleha. Siapa saja yang berkunjung ke kafe itu pada 8 Oktober 2022 pukul 16.00-23.00 akan disuguhi minuman dan makanan gratis. Semua itu digratiskan sebagai ekspresi cinta kepada Nabi Muhammad SAW.
Baca Juga: Mencintai Rasulullah SAW Bagian dari Akidah Seorang Muslim
“Sabtu, 8 Oktober 2022, pas Maulid Agung, semua Kafe Basabasi, Kafe Mainmain, dan Kade Lehaleha kugratiskan makan minum dari pukul 16.00-23.00. Mohon tata cara dan aturannya (bisa dibaca di tiap gerai), agar nyaman, aman,
happy bagi semua,” kata Edi di akun twitternya, dikutip Rabu (5/10/2022).
Ada beberapa aturan yang mesti dipenuhi pengunjung. Semua itu dudah tertera di masing-masing gerai. Aturan itu dibuat sesederhana dan se-efisien mungkin.
“Di Kafe Mainmain, pukul 20.00 insya Allah akan dibacakan shalawatan dan dipungkasi dengan marhabanan (asyraqalan),” kata Edy.
Siapa Sosok Edi Mulyono?Edi Mulyono merupakan pegiat literasi. Dia saat ini tinggal di Yogyakarta dan sukses membangun kerajaan bisnis yang bergerak di bidang penerbitan dan kafe. Dia adalah orang di balik Penerbit Diva Press.
Selain penerbitan, laki-laki asal Madura, Jawa Timur itu juga mendirikan Kafe Basabasi yang sudah memiliki cabang di berbagai titik di Yogyakarta.
Baca Juga: Wajib Mengenal Rasulullah SAW sebagai Bukti Cinta Padanya
Edi merupakan alumnus Pondok Pesantren Denanyar, Jombang. Lelaki yang dikenal dengan nama pena Edi AH Iyubenu itu telah mengalami jatuh bangun dalam membangun bisnis.
Dia membangun Diva Press pada 2001 Meski nyaris tak memiliki modal. Dia hanya memanfaatkan hubungan pertemanan. Dia melayani teman-temannya untuk menerbitkan buku dalam partai kecil.
Meski didirikan dengan modal seadanya, Diva Press kini sudah menjadi raksasa penerbitan buku di Indonesia. Dari situ melebarkan sayap di bisnis kafe dengan konsep ruang ekspresi keilmuan, kebudayaan, dan kesusastraan. Edi sering mengadakan diskusi terbuka di bidang sastra, budaya, dan agama di kafe miliknya. Tempat itu menjadi semacam kawah candradimuka bagi banyak penulis dan seniman di Yogyakarta.
(jqf)