LANGIT7.ID, Jakarta - Tragedi Kanjuruhan merupakan kejadian memilukan di dunia sepak bola. Tindakan aparat dengan menembakkan gas air mata untuk menghalau massa justru menjadi penyebab tewasnya 131 suporter Arema.
Sejak awal, tragedi ini diklaim terjadi karena dipicu masuknya Aremania ke lapangan untuk menyerang pemain. Tragedi ini terjadi usai laga Arema vs Persebaya di Liga 1 2022-2023 Pekan 11 (1/10) di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur.
Namun, Komisioner Komnas HAM, Choirul Anam membantah hal tersebut. Menurut temuan fakta hasil investigasi Komnas HAM, Aremania (sebutan suporter Arema) masuk ke lapangan bukan untuk menyerang pemain Arema maupun Persebaya.
Perlu diketahui, temuan ini berdasarkan hasil wawancara kelompok-kelompok Aremania, keluarga korban, dan mendatangi stadion langsung.
“Kalau ada yang bilang ekskalasi itu timbul gara-gara suporter pada terangsang semua, lalu ekskalasi meningkat, setelah itu dimulai dengan yang berada di luar dan sebagainya, sampai sore ini kami menangkapnya beda. Kami mendapatkan berbagai informasi tidak begitu kejadiannya,” kata Anam, dalam keterangan tertulis, di Wearemania, Jumat (7/10/2022).
Menurut dia, kejadian sebenarnya saat sekitar 15-20 menit pasca-peluit wasit mengakhiri laga. Suasana saat itu masih terkendali, walaupun banyak suporter masuk ke lapangan.
Baca Juga: Ditetapkan sebagai Tersangka, Ini Profil Dirut PT LIB“Kalau itu ada yang mengatakan mau menyerang para pemain faktanya tidak. Kami bertemu dengan para pemain Arema yang terakhir meninggalkan lapangan dan Aremania yang masuk ke lapangan. Pemain bilang tidak ada kekerasan terhadap mereka,” tutur Anam.
Dengan situasi yang terkendali, Anam mempertanyakan penggunaan gas air mata oleh pihak pengamanan untuk menghalau Aremania. Komnas HAM menyesalkan adanya tembakan gas air mata ke arah tribun.
“Pertanyaannya, ketika suasana terkendali, apakah diperlukan gas air mata yang membuat semua panik? Seharusnya kalau tata kelola keamanan baik, tidak akan terjadi peristiwa yang memilukan ini,” ucap Anam.
Anam menegaskan, pihak terkait seharusnya meluruskan apa yang sebenarnya terjadi. Tidak ada upaya dari Aremania yang masuk ke lapangan untuk melukai siapapun.
“Masyarakat Malang, bangsa dan negara Indonesia, penting untuk meluruskan. Jangan bilang gara-gara suporter merangsak mengancam pemain, tidak begitu. Pemain tidak ada yang terluka, tidak ada caci maki, Aremania bilangnya hanya ingin memberikan semangat terhadap para pemain,” ujarnya.
Baca Juga: Suporter Indonesia Desak Pemerintah Objektif Usut Tragedi Kanjuruhan(zhd)