Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Kamis, 23 April 2026
home edukasi & pesantren detail berita

Prinsip Dasar Pendidikan Al-Quran, Adab Paling Utama

Muhajirin Selasa, 17 Agustus 2021 - 05:36 WIB
Prinsip Dasar Pendidikan Al-Quran, Adab Paling Utama
Ilustrasi seorang santri sedang belajar Al-Quran kepada seorang Kiai (foto: langit7.id/istock)
LANGIT7.ID, Jakarta - Katib Syuriyah PBNU, KH Muhammad Afifudin Dimyathi, menjabarkan lima prinsip dasar dalam pendidikan Al-Qur’an yakni adab, metodologi, manajemen, prinsip waktu, dan guru atau pendidik. Lima prinsip dasar itu perlu diperhatikan untuk menjaga kualitas pendidikan Al-Qur’an di tengah pandemi Covid-19.

Pertama, prinsip adab dalam mengaji. Orang belajar mengaji tidak hanya belajar Al-Qur’an seperti pendalaman makharijul huruf dan tajwid, tapi ada transformasi nilai-nilai Al-Qur’an

Dia mencontohkan pondok tahfidz yang selalu mengajarkan adab berpakaian, berbicara, antri, hingga membawa kitab. Adab-adab tersebut merupakan etika penting dalam proses belajar mengajar Al-Qur’an.

“Di era pandemi mungkin banyak hilang. Prinsip-prinsip sopan santun inilah yang harus tetap menjadi perhatian kita bersama. Jangan sampai kita mengabaikan proses ini, karena bagaimanapun juga, Al-Qur’an harus dibarengi dengan adab,” kata pria yang akrab disapa Gus Awis itu, dikutip dari laman resmi NU, Senin (16/8/2021).

Gus Awis mengutip sebuah hadits yang menerangkan bahwa akan datang suatu zaman yang terdapat banyak ahli, namun sedikit ulama. Pada zaman itu juga ilmu tercerabut. Banyak pembaca Al-Qur’an, tapi bacaanya tidak sampai kerongkong mereka.

“Saya tentu tidak berharap ini sudah terjadi pada zaman kita. Tetapi saya ingin yang terjadi hari ini adalah kebalikannya, sehingga tercipta al-fahmu dan nanti akan sampai pada taraf al-amal, maka di situlah letak adab ini bisa tercapai,” kata Gus Awis.

Menurut dia, penghafal Al-Qur’an harus mampu menata dan menjaga hati dari hasad, dengki, dendam, dan penyakit hati lainnya. Hal itu dijelaskan dalam surah Muhammad ayat 24.

Dia lalu mengajak pengelola pendidikan Al-Qur’an untuk memikirkan hal tersebut. Ini agar anak didik tidak hanya selesai membaca, tapi adab merasuk ke dalam diri mereka. Demikian pula akhlak Al-Qur’an, karena itu merupakan inti belajar Al-Qur’an.

Kedua, prinsip metode dan metodologi pengajaran. Menurut Gus Awis, ada tiga metode yang dikenal dalam pembelajaran Al-Qur’an, yakni talqin (guru membacakan lalu murid menirukan), tashih (murid membacakan kemudian guru membenarkan), dan tadarrus (murid membaca mandiri dan mengulang).

Dalam sejarah para sahabat, Rasulullah SAW pernah membacakan kepada Ubay bin Ka’ab atau talqin. Nabi juga pernah menyuruh Abdullah bin Mas’ud membacakan kepada beliau (metode tashih).

Sementara metode tadarrus harus menjadi proses yang berlangsung selama seumur hidup karena belajar Al-Qur’an tidak dibatasi waktu. Seseorang yang sudah khatam Al-Qur’an tidak bisa boleh berhenti mengaji.

Ketiga, prinsip manajemen pendidikan Al-Qur’an. Prinsip ini ada guru, pembinaan guru, ketuntasan, dan kurikulum pendamping.

Ia meminta agar guru tidak terlalu loyal pada metode, yang penting anak bisa mengaji dengan benar. Ini karena metode memang diusung untuk memudahkan. Jika tidak memudahkan, maka guru boleh mengganti metode lain.

Murid juga harus dididik agar mereka antusias terhadap Al-Qur’an, sangat mencintai Al-Qur’an, dan terus-menerus membaca Al-Qur’an. Hal itu diperintahkan dalam surah Muhammad ayat 24, Al-Muzammil ayat 20, dan Al-A’raf ayat 204.

Keempat, prinsip waktu. Masalah waktu ini harus diperhatikan. Kerap ada murid belajar Al-Qur’an lalu pindah pondok dan metode pembelajaran, sehingga pembelajaran berlangsung cukup lama, karena harus memulai dari awal.

“Memang harus begitu sesungguhnya, tetapi kita sebagai guru punya otoritas untuk mempersingkat. Artinya dia bisa langsung meloncat,” ucap Gus Awis.

Kelima, prinsip guru atau pendidik. Gus Awis mengutip surah Ar-Rahman ayat pertama yang memberikan isyarat bahwa hal penting dalam proses mengajar Al-Qur’an adalah sosok guru guru yang mempunyai kasih sayang kepada murid.

Dia mencontohkan, di pesantren banyak kiai yang mengajar dengan tegas dan dianggap tidak nyaman, namun ternyata santrinya bisa sukses. Ini karena sang kiai terdapat nilai Ar-Rahman yang mampu menerapkan kasih sayang Allah dalam membina santri.

“Dengan cara apa pun guru mengajar, yang penting dia itu Ar-Rahman, punya kasih sayang, sering memberi kemudahan dan baik. Ar-Rahman itu maknanya welas asih,” ucap beliau.l

(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Kamis 23 April 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:55
Ashar
15:14
Maghrib
17:52
Isya
19:02
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَاِنَّهٗ مُلٰقِيْكُمْ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلٰى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ࣖ
Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)