LANGIT7.ID - Bagi petani ataupun pencinta tanaman hias sudah tidak asing dengan istilah pupuk slow release atau lepas lambat. Pupuk ini merupakan inovasi yang bekerja dengan melepaskan unsur hara sedikit demi sedikit.
Berlainan dengan pupuk fast release yang langsung terurai begitu ditebar, pupuk lepas lambat menutrisi sesuai kebutuhan tanaman tersebut. Bisa diartikan, pupuk ini melepaskan unsur hara dengan terkendali atau controlled released.
Pupuk lepas lambat bisa bertahan lama 3-4 bulan karena memiliki beberapa lapisan berupa pembungkus selaput polimer, lapisan tersebut membuat pupuk ini berbentuk bola-bola atau kapsul berukuran 2-4 mm.
Hadirnya pupuk ini sebagai solusi bagi petani yang boros saat menggunakan pupuk untuk kebutuhan banyak lantaran lahan luas. Meskipun harganya relatif lebih mahal, tapi bisa menghemat dari segi penggunaan dan masa pemupukkan pada tanaman juga berlangsung lebih lama.
Mengutip laman Pusyantek Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), penerapan pupuk lepas lambat pada tanaman Padi, Jagung, dan lain-lain, bisa menghemat penggunaan pupuk 30-50% dalam sekali penebaran selama masa tanam sampai panen. Bahkan meningkatkan hasil panen sekita 10%.
Keunggulan dari pupuk ini adalah kandungan nutrisi lengkap dan formulanya sesuai dengan fase pertumbuhan tanaman, mampu menyediakan nutrisi untuk tanaman lebih lama, mudah diaplikasikan, tidak mudah menguap atau tercuci air, serta ramah lingkungan.
Karena bekerja lambat, pupuk ini tidak cocok diaplikasikan pada tanaman musiman yang membutuhkan unsur hara secara cepat untuk pertumbuhan karena usia hidup yang singkat dan masa panen cepat. Jika terlanjur, segera tambahkan pupuk lepas cepat (fast release) untuk mengimbangi.
Pupuk lepas lambat umumnya digunakan pada tanaman tahunan/perkebunan, tanaman hias seperti aglaonema, anggrek, palem, lidah mertua hingga tabulampot (tanaman buah dalam pot) karena usia hidup tanaman ini relatif lama sehingga pupuk menutrisi dengan optimal.
Cara pakainya sedikit berbeda dari pupuk biasa yang hanya ditebar di atas permukaan media tanam, pupuk ini diaplikasikan dengan cara dibenamkan di sekitar tanaman. Gali media tanam sekitar 5-10 cm kedalaman, jarak 10-20 cm dari pangkal tanaman (jarak bisa melebar tergantung ukuran tanaman).
Masukkan pupuk ke dalam lubang, lalu tutup kembali. Pupuk kemudian akan menutrisi tanaman dengan melepaskan unsur hara secara perlahan dan periodik sesuai kebutuhan tanaman.
Membuat merawat tanaman hias dan tambulampot juga lebih praktis, sehingga kita bisa fokus pada penyiraman dan perawatan berkala pada tanaman.
(arp)