LANGIT7.ID - , Jakarta - Setiap karya busana yang unik dan banyak disukai tentu akan mengalami peniruan.
Produk tiruan atau palsu ini pun kemudian muncul dengan harga lebih murah. Kondisi ini jelas merugikan pemilik asli karya tersebut.
Lalu, bagaimana seorang desainer melihat karya imitiasi tersebut? Apakah desainer memiliki rasa takut bila karyanya kemudian ditiru?
Desainer
Lenny Agustin mengatakan perasaan takut akan karyanya ditiru merupakan hal yang baik. Sebab dengan begitu para desainer terus memiliki semangat untuk membuat
sesuatu yang lebih kreatif dan
inovatif.
Baca juga: 10 Desainer Busana Muslim Pamer Karya Lokal Menuju Global di JMFW 2023"Misalnya saya sudah
fashion show sekarang, terus banyak yang tiru di
Tanah Abang atau di mana-mana, itu tidak apa-apa. Itu akan mendorong kita untuk berkreasi lagi sesuatu yang baru atau ditingkatkan lagi kualitasnya supaya berbeda," ujar Lenny dalam gelar wicara di
Jakarta Muslim Fashion Week (JMFW) 2023 di ICE, BSD City, Banten, Jumat (21/10/2022).
Meski demikian, Lenny menyarankan untuk tidak meniru terlebih di antara para desainer, sebab hal tersebut merupakan etika berbisnis.
"Secara internasional, itu dilarang untuk saling meniru," katanya.
Lebih lanjut, wanita yang sudah 20 tahun berada di dunia rancang busana itu berharap pemerintah berperan aktif dalam fenomena tiru meniru karya.
Baca juga: Cara Desainer Saudi Dukung Fesyen, tapi Tetap Peduli Lingkungan"Pemerintah bisa berperan untuk mendorong desainer-desainer yang sudah mampu eksplor untuk hadir di fashion show dunia yang menghadirkan keberagaman Nusantara. Nanti di sana ada history-nya, sehingga diketahui itu aslinya dari Indonesia. Begitulah cara komunikasinya," pungkasnya.
(est)