LANGIT7.ID, Jakarta - Mantan Konjen RI di New York, Arifi Saiman, menyebut
diplomasi santri merupakan bagian dari jalur diplomasi yang sifatnya citizen diplomacy bukan public diplomacy.
Hal ini dia katakan untuk meluruskan salah kaprah masyarakat yang kerap menggunakan public diplomacy pada saat menggambarkan misi yang dilakukan oleh masyarakat atau elemen-elemen, baik itu Civil Society Organization (CSO) maupun Non-Governmental Organization (NGO) untuk menggapai misi sebagai public diplomacy.
"Sebetulnya kalau yang namanya public diplomacy itu pelakunya tetap negara, dan sasarannya adalah masyarakat dari negara yang mau kita tuju," ujar Arifi dalam webinar hari santri bertajuk Santri, Diplomasi dan Perdamaian Dunia, Sabtu (29/10/2022).
Baca Juga: Santri Harus Paham Keislaman, Kebangsaan, dan Keindonesiaan"Namun, jika pelakunya adalah unsur dari masyarakat termasuk organisasi masyarakat seperti misalnya ISNU melakukan misi diplomasi ke luar negeri, itu ranahnya bukan public diplomacy tetapi citizen diplomacy," lanjut dia.
Dia lalu berkata, terkait dengan diplomasi santri terdapat kata santri, sehingga pelakunya adalah santri.
Santri berasal dari kata sansekerta yaitu sastri. Dahulu terdapat tempat-tempat pembelajaran agama Buddha dan Hindu yang juga melakukan boarding school atau menginap, dan muridnya bernama sastri.
"Kebetulan leluhur kita juga dulu sebelum masuk Islam juga bagian dari budaya Hindu dan kata santri itu sebenarnya bagian dari sastri itu. Cuma bedanya kalau santri di sini misalnya masih aktif menjadi murid atau yang sudah selesai atau lulus dari pondok pesantren atau dari sekolah-sekolah Islam," katanya.
Maka itu, menurut dia esensi diplomasi santri masuk dalam kategori citizen diplomacy, yakni diplomasi warga negara.
"Dan untuk esensi diplomasi santri itu sendiri memang masuk dalam citizen diplomacy warga negara dan jalurnya itu trek 2 atau second track diplomasi yang pelakunya itu diplomasi," pungkasnya.
(bal)