LANGIT7.ID, Jakarta - Pendiri Quantum Akhyar Institute,
Ustadz Adi Hidayat (UAH), menjelaskan, Allah Ta’ala mengabulkan doa atau permohonan hamba-Nya tanpa batas. Itu termaktub dalam surah Al-Imran ayat 38-39 saat Nabi Zakariyah meminta doa kepada Allah Ta’ala agar dikaruniai anak.
Diketahui, saat itu Nabi Zakariyah memasuki usia renta. Secara medis tidak mungkin memiliki anak. Demikian pula istrinya, monopos dan mandul. Tiga catatan medis yang membuat seseorang mustahil memiliki anak. Bahkan, Zakariyah kerap mendapat sindiran bahkan cacian lantaran tidak bisa punya anak.
Baca Juga: Jenis Tingkatan Dosa: Paling Kecil hingga Hobi Maksiat tapi Allah Maha PemaafNamun, doa Nabi Zakariyah yang diabadikan dalam surah tersebut bisa menjadi bukti. Bila mendapat ujian, maka amalan Zakariyah bisa dilakukan. Zakariyah pun masuk ke dalam mihrab (tempat khusus ibadah), shalat, lalu berdoa dengan menggunakan nama Allah sesuai dengan permohonan.
"Nama Allah yang mengabulkan, memberikan sesuatu tanpa batas disebut Al-Wahhab. Permohonannya menggunakan kalimat
Hab misalnya
habli. Kata Hab ini berasal dari
wahab, yakni meminta kepada Allah denga nama-Nya Al-Wahhab," kata UAH melalui kanal Adi Hidayat Official, dikutip Rabu (18/8/2021).
Al-Wahhab adalah nama dari Allah yang memberi pemberian tanpa batas. Jika ada orang dihukumi atas satu keterbatasan, maka bukan alasan untuk berkecil hati. Ada Allah yang akan mengabulkan semua permohonan. Hal mustahil menjadi seusatu yang biasa saja. Hal yang tak mungkin menjadi mungkin.
"Tinggalkan opini manusia dan beralih kepada Allah lalu berdoa dengan menyebut nama Allah yang tanpa batas itu (Al-Wahhab)," ucap UAH.
Baca Juga: Islam dan Peringatan Kemerdekaan, Begini Kata Ustadz Adi HidayatRumus tersebut termaktub dalam surah A-Isra ayat 110-111. "
Katakanlah wahai Nabi Muhammad kepada orang-orang musyrik Makkah, Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman, Dia Yang Maha Pengasih. Jangan ragu engkau menyeru dengan kedua nama itu, sebab keduanya adalah nama Tuhan. Dengan nama yang mana saja kamu dapat menyeru, karena Dia mempunyai nama-nama yang terbaik, yakni Asma’ul-Husna, sebutlah salah satu dari nama itu atau semuanya tidaklah berarti engkau mengakui berbilangnya Zat Tuhan, sebab berbilangnya nama tidak berarti berbilangnya Zat Tuhan," (QS. Al-Isra: 110).
UAH menjelaskan, setiap kali ada kebutuhan, maka cari nama Allah yang sesuai dengan yang sedang dibutuhkan. Ada kesulitan, maka berdoa dengan menyebut nama Allah
Al-Fattah. Ketika minta rezeki sebut
Ya Razzaq. Ada yang ganggu sebut
Ya Jabbar,
Ya Malik. Ada yang menghukumi keterbatasan, maka sebut
Al-Wahhab.
Nabi Zakariyah memulai doanya dengan meminta kepada
Al-Wahhab. Lalu melanjutkan dengan meminta kepada Allah yang Maha Mendengar (
As-Sami’).
Ada dua peristiwa yang perlu diperhatikan dalam Surah Al-Imran ayat 38-39. Peristiwa pertama Nabi Zakariyah AS berdoa kepada Allah. Kedua, turun jawaban. Antara peristiwa pertama dan kedua disambungkan dengan huruf
athaf (huruf penyambung) dengan menggunakan huruf
fa. Ini termaktub dalam surah Al-Imran ayat 39.
Baca Juga: Ubah Tema Lomba Penulisan Santri, BPIP: Kami Senang Diberi SaranMalaikat turun menyeru kepada Nabi Zakariyah, sedangkan beliau masih dalam posisi berdiri dalam shalat di mihrab. Belum selesai shalat, Allah memberi kabar kembira bahwa Zakariyah akan dikaruniai anak bernama Yahya.
"Yahya itu berasal dari kata
Al-Hayyu artinya hidup. Kata orang, mustahil perempuan monopos dan divonis mandul secara klinis, bisa memiliki keturunan. Tidak ada yang mustahil. Setelah Nabi Zakariyah berdoa, istrinya melahirkan seorang bayi yang sehat," kata UAH.
Kata
fa dalam rumus bahasa Arab adalah kata sambung yang menghubungkan dua peristiwa tanpa jeda. Kalimat pertama berdoa, kalimat kedua terkabulkan. Antara berdoa dan pengabulan tidak ada jeda. Baru selesai berdoa, langsung turun jawaban.
"Maka kalau antum mau seperti itu, keluarkan fikihnya Nabi Zakariyah, bagaimana caranya ketika berdoa, ketika berdoa seketika dikabulkan. Di antaranya di situ diberikan isyarat, disebutkan kalimat mihrab," ungkapnya.
Sebagai infromasi, di dalam
Al-Qur’an itu ada tiga tempat yang istimewa yakni masjid, musalla, dan mihrab. Mihrab adalah tempat istimewa. Jika seseorang berdoa di dalam mihrab, cepat terkabulkan doanya. Mihrab itu tidak harus di
masjid, bisa juga dibuat di rumah. Tidak terlampau luas. Jika tidak ada ruangan khusus, bikin hamparan sajadah, isi dengan ibadah.
Baca Juga:
Masjid Raya Baiturrahman Aceh Jadi Latar Mesut Ozil Ucapkan HUT Ke-76 RI
Masjid Agung Jateng Mulai Dibuka untuk Shalat Jumat(asf)