LANGIT7.ID, Jakarta -
Islam memerintahkan manusia untuk beribadah dan menghindar dari segala perbuatan dosa. Meskipun tidak ada yang sempurna dan luput dari kesalahan, Allah Ta’ala Maha Pengampung lagi Maha Penyayang.
Pendiri Quantum Akhyar Institute
Ustadz Adi Hidayat (UAH) menjelaskan, tingkatan pengampunan Allah sejalan dengan tingkatan dosa yang dilakukan manusia. Kadang, dosa kecil yang dikerjakan akan gugur saat mengerjakan amal kebaikan. Ada pula dosa yang tidak bisa terhapus kecuali dengan taubat kepada-Nya.
Baca Juga: Watak Asli Umat Islam Indonesia: Sangat Toleran dan ModeratMenurut UAH, ada empat tingkatan dosa yang dilakukan manusia. Pertama, kesalahan yang dilakukan menurunkan sifat maaf dari Allah Ta’ala. Kerap seseorang melakukan kesalahan tak sengaja dan hal tersebut masuk dalam ketegori ini. Demikian pula kesalahan-kesalahan yang berbobot ringan dan karenanya Allah Ta’ala menegaskan Dia adalah Maha Pemaaf.
Kedua, kesalahan yang mengandung nilai dosa. Kesalahan yang mengandung nilai dosa memiliki konsekuensi tinggi di sisi Allah. Tingkatan ini disebut
dzambun. Berkaitan dengan
dzambun, Allah menurunkan sifat
Ghafir (mengampuni).
Dosa pada tingkatan ini diperjelas dalam Surah Ghafir ayat ke-3. Allah Ta’ala berfirman, "
Yang mengampuni dosa dan menerima tobat dan keras hukuman-Nya; yang memiliki karunia. Tidak ada tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nyalah (semua makhluk) kembali."
"Allah Ta’ala mengampuni satu kesalahan yang sudah membawa nilai dosa. Bukan sekadar
akhto (kesalahan) biasa, tapi membawa dosa di dalamnya," kata UAH dikutip dari kanal youtube Adi Hidayat Official, dikutip Rabu (18/8/2021).
Baca Juga: UAH Kritik Lomba BPIP: Mau Tanya Hukum Bukan ke SantriKetiga, kesalahan yang mengandung kezaliman. Di atas
dzambun, tingkatan dosa menjadi
dzunubun. Secara bahasa,
dzunubun merupakan kata jamak dari
dzambun. Dalam konteks ini pun Allah Ta’ala masih memberikan peluang untuk mengampuni. Berkenaan dengan ini, Allah turunkan sifat yang disebut
Ghaffar (
Maha Pengampun).
"
Maka aku berkata (kepada mereka), Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, Sungguh, Dia Maha Pengampun," (QS. Nuh: 10).
Dalam ayat tersebut, Allah Ta’ala menggunakan kata
Ghaffar untuk menunjukkan dosa ummat Nabi Nuh yang berakumulasi atau menumpuk terlalu banyak. Maka, dengan itu level pengampunan-Nya naik menjadi
Al-Ghaffar.
"Kalau sudah mengandung sifat
dzalim di dalamnya. Misalnya tidak shalat, menyuruh orang lain tidak shalat, dan mencela orang shalat, itu disebut
dzulumun ma’dzulmi. Makanya orang yang menghalangi orang lain untuk beribadah disebut orang-orang yang zalim," ungkapnya.
Allah SWT berfirman dalam surah Al-Baqarah ayat 114, "
Dan siapakah yang lebih zalim dari pada orang yang melarang di dalam masjid-masjid Allah untuk menyebut nama-Nya, dan berusaha merobohkannya. Mereka itu tidak pantas memasukinya kecuali dengan rasa takut (kepada Allah). Mereka mendapat kehinaan di dunia dan di akhirat mendapat azab yang berat.”
Namun, di tingkatan ini pun Allah masih beri kesempatan kepada para pendosa tersebut yang hendak bertaubat. Berkenaan dengan ini, Allah turunkan sifat
Ghafur atau
Ghafurun.
Baca Juga: Muharram Momen Hijrah, UAH: Dekatkan Diri ke Masjid dan Al QuranKeempat, tingkatan paling tinggi dari kemaksiatan disebut
israf. Kejahatan atau kesalahan yang dilakukan sangat berlebihan atau sudah melewati batas. Orang yang berada pada tingkatan ini tidak mau disaingi dalam berbuat dosa.
Allah berfirman dalam surah Az-Zumar ayat 53, "
Katakanlah, Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri. Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang."
Jadi, pada tingkatan kesalahan terkecil ada sifat Allah yang Maha Mengampuni. Bahkan sampai berlebihan pun, Dia masih memberi kesempatan sampai nyawa belum sampai ke tenggerokan untuk bertaubat. Jika dengan semua kesempatan tersbeut, seseorang belum mau bertaubat juga, maka dengan cara apalagi Allah mesti mengampuninya.
"Jadi benar kata nabi, semua ummatku akan masuk surga kecuali yang tidak mau. Jadi, kalau ada yang mendapatkan rahmat Allah, itu anugerah. Namun kalau masuk ke negara, itu karena orang tersebut memang ingin masuk ke neraka," ucapnya.
Baca Juga:
Keuntungan Dunia Akhirat Menyekolahkan Anak ke Pesantren
Keutamaan Shalat Isyraq, Bisa Dapat Pahala Setara Haji dan Umrah(asf)