LANGIT7.ID, Jakarta - Ummat Islam dianjurkan mengerjakan Shalat Isyraq di waktu syuruk. Keutamaan ibadah tersebut yakni dapat memperoleh pahala yang setara dengan ibadah haji dan umrah.
Waktu syuruq dikerjakan setelah matahari terbit sekitar satu tombak, kira-kira lima belas menit setelah matahari terbit atau sekitar satu jam setengah dari waktu subuh. Bisa juga lihat jadwal shalat.
Shalat Isyraq memiliki keutamaan pahala setara haji dan umrah dengan sejumlah syarat tertentu. Rasulullah bersabda: "Siapa yang Shalat Subuh berjamaah, lalu duduk berdzikir kepada Allah hingga matahari terbit kemudian shalat dua rakaat, ia mendapatkan pahala haji dan umrah sempurna, sempurna, sempurna." (HR At Tirmidzi).
Sebagaimana hadits tersebut, ada tiga syarat mengerjakan shalat Syuruq, yakni mendirikan Shalat Subuh berjamaah di masjid, memanjangkan dzikir, ditutup dengan shalat sunnah pada waktu syuruq. Ulama menjelaskan sebagai penegasan yakni selama tidak keluar dari area masjid.
Ulama menyatakan wanita yang Subuh di rumah pun bisa memperoleh pahala setara haji dan umrah. Ustadz Adi Hidayat menjelaskan, ulama memberi kelonggaran berjamaah di rumah bila terdapat udzur yang dibenarkan secara syari tidak bisa ke masjid.
Misalnya, wanita yang memang lebih utama shalat di rumah karena tiga kondisi yang dibenarkan secara syari. Pertama, memenuhi kewajiban yang berlaku di rumah. Kemudian kurang aman dari fitnah saat di jalan, dan tidak adanya tempat khusus peremupuan di masjid.
“Maka dia boleh tunaikan di rumah dengan syarat pertamanya berjamaah. Misalnya dengan anak perempuannya atau asisten rumah tangga,” kata Ustadz Adi Hidayat dalam Youtube Adi Hidayat Official.
Hukum Shalat Isyraq di RumahHabib Hasan bin Ismail Al Muhdor, pengasuh Majelis Ahbabul Musthofa menjelaskan tidak mesti harus selalu duduk di tempat shalat (tidak boleh berpindah) sampai tiba waktu syuruq. Intinya, kata Habib, berdzikir kepada Allah. Sambil berjalan-jalan di area masjid pun boleh selama tidak ada pembicaraan mengenai urusan dunia.
“Kalau memang harus pulang dia berdzikir di jalan. Sampai di rumah dia shalat Isyraq karena dia harus pulang , selama tidak bicara mengenai dunia insyaallah mendapatkan pahala haji dan umrah,” katanya saat menjawab pertanyaan jamaah di majelisnya.
Namun, menurutnya, sulit bagi seseorang setelah keluar dari masjid tidak bicara urusan dunia. Misalnya ada teman menyapa, pulang ke rumah bertemu anak dan istri yang mengajak bicara.
“Sangat sulit sekali, tapi lebih aman bila di masjid. Shalat subuh di masjid (bagi pria) lebih afdhal daripada shalat Subuh di rumah,” tegasnya.
(bal)