Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Ahad, 19 April 2026
home global news detail berita

Melongok Toleransi Beragama Warga di Kaki Gunung Lawu

arif purniawan Senin, 07 November 2022 - 20:32 WIB
Melongok Toleransi Beragama Warga di Kaki Gunung Lawu
Kantor Kecamatan Jatiyoso. (foto : Ist)
LANGIT7.ID, Karanganyar - Masyarakat di kawasan kaki gunung Lawu tepatnya di Kecamatan Jatiyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah masyarakatnya memiliki toleransi yang tinggi terhadap pemeluk agama lain.

Sikap toleransi masyarakat di kaki Gunung Lawu diakui oleh seorang pendeta di sebuah Gereja Kristen Protestan di Dusun Kangsi, Desa Karangsari. Pendeta bernama Daniel, tinggal di areal gereja bersama dengan Istrinya Pendeta Tabita.

Pendeta Daniel menceritakan kebahagiannya selama tinggal di sini. Selama menetap di sana masyarakat menyambutnya dengan baik.

Baca juga: Allah Beri Fitrah dalam Hati Manusia Meski Kerap Berbuat Dosa

“Saya merasa, di sini tingkat kedewasaan masyarakat itu tinggi. Toleransinya kepada kami minoritas luar biasa baiknya. Kami merasa ada yang melindungi di sini,” ungkapnya dikutip Senin (7/11/2022).

Daniel mengatakan, selama ini ketika berkegiatan, pihaknya tidak mendapatkan diskriminasi. Masyarakat nonmusim di sana sangat dihargai oleh penduduk mayoritas yang beragama Islam.

“Hidup di sini kami merasa sangat dihargai sebagai anggota masyarakat tidak dibeda-bedakan. Walaupun keyakinan kami berbeda. Bahkan, kami pun diizinkan mendirikan gereja. Dalam kegiatan masyarakat, kami diajak bersama-sama gotong royong dalam kegiatan kemasyarakatan,” ceritanya.

Daniel juga mengungkapkan kebahagiannya ketika bisa saling membantu satu sama lain tanpa membedakan keyakinan beragama. Semisal, ketika pihaknya mengadakan pengobatan gratis di gereja.

“Kami merasa sangat bahagia sekali ketika didukung oleh masyarakat dan itu tadi kami merasa dilindungi. Ketika perayaan natal kami undang mereka setelah acara peribadatan, untuk ramah tamah dan jamuan, mereka juga hadir. Bahkan, masyarakat ada yang membantu keamanan dan ketertiban, sampai parkirpun juga dibantu itu merupakan sebuah wujud toleransi yang sebenarnya kami rasakan,” kata dia.

Dari data Badan Pusat Statistik (BPS), di Jatiyoso terdapat 42.323 penduduk yang beragama Islam, Protestan ada 192 Pemeluk, Katolik ada 29, dan Budha ada 15. Meski Islam agama mayoritas, namun di sana berdiri tempat ibadah lain, serta pusat kegiatan aliran kepercayaan yang menjalankan keyakinanya.

Menurut Daniel, toleransi yang terbangun, tidak lepas dari peran tokoh masyarakat yang ingin menyatukan perbedaan dalam bingkai kemasyarakatan yang harmonis.

Baca juga: Gus Yasin Minta Masyarakat Tak Terpengaruh Politik Identitas

“Melalui duduk bersama dan komunikasi dari tokoh-tokoh masyarakat, dan tidak terlepas dari upaya yang sudah dulu mengawali menjalin hubungan baik dengan mempersatukan masyarakat yang berbeda keyakinan,” ujarnya.

Kepala Dusun (Kadus) Kangsi, Desa Karangsari Hartono menyampaikan, di wilayahnya terdapat sekitar 1.200 penduduk yang heterogen. Meski berbeda agama dan keyakinan, namun hidup rukun dalam bingkai kemasyarakatan.

“Berbeda agama bukan menjadi sebuah penghalang dalam kerukunan dan persatuan, yang kami utamakan adalah masyarakat yang harmonis,” ungkap Hartono, yang juga aktif dalam organisasi Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Karanganyar tersebut.

Selain yang beragama Islam dan Kristen, di Dusun Kangsi terdapat aliran kepercayaan yang penganutnya ada sekitar 5 orang. Dalam kegiatan keagaaman, semua tokoh agama yang berbeda-beda saling berkoordinasi dan berkomunikasi ketika akan melaksanankan kegiatan ibadah.

“Semisal dalam momen acara Natal, yang berbeda keyakinanpun ikut terlibat dalam memberikan keamanan dan kenyamanan,” ujarnya.

“Jadi kami diundang dan datang tidak untuk bribadah tapi untuk kemasyarakatan yang diadakan pihak gereja. Ketika pas acara peribadatan yang diterjunkan di situ adalah anggota Polri dan TNI bersama Banser dan elemen masyarakat lainnya,” ujarnya.

Sebaliknya lanjut Hartono, Ketika ada momen Hari Raya Idul Fitri, giliran dari pemeluk non-muslim yang ikut menjaga acara. “Setelah shalat, kami saling berjabat tangan, ramah tamah merayakan Idhul fitri bersama dan bahagia,” terangnya.

Terpisah, dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Mas Said Surakarta Rosidi menegaskan bahwa pengakuan atas Hak Asasi Manusia adalah kunci utama terwujudnya toleransi.

Baca juga: Haedar Nashir Digadang-gadang Maju Kembali dalam Muktamar

“Kita harus mengakui huququl insaniyah atau yang dikenal dengan Hak Asasi Manusia. Keberlangsungan kehidupan manusia yang heterogen baik agama, suku, bahasa maupun bangsa itu bisa terjamin salah satunya dengan sikap toleran,” kata Rosidi.

“Toleransi dibangun dengan tanpa meninggalkan dan menanggalkan akidah masing-masing, tapi punya tujuan yang sama Ikut membangun bangsa ini dengan kebersamaan,” imbuhnya.

Menurutnya, kerukunan umat beragama dapat terwujud ditentukan oleh dua faktor. Pertama yakni sikap dan perilaku masing-masing umat beragama sendiri dan kedua kebijakan negara atau pemerintah yang kondusif bagi kerukunan.

“Pemerintah harus hadir dengan perannya sebagai pemersatu,” ucapnya seperti dilansir NU Online Jateng.

(sof)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Ahad 19 April 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:55
Ashar
15:14
Maghrib
17:53
Isya
19:03
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)