LANGIT7.ID, Jakarta - Ada 3 tips memilih obat aman untuk anak menurut
pakar UNAIR. Orangtua harus cermat saat merawat anak yang sakit saat maraknya kasus
gangguan ginjal akut.
Kegagalan fungsi organ vital tersebut diduga dipicu obat-obatan sirop yang umumnya dikonsumsi anak-anak.
Pakar Farmasi UNAIR, Prof Junaidi Khotib, memberikan beberapa tips aman dalam memilih obat pada anak.
Baca Juga: 200 Obat Gangguan Ginjal Akut Tiba di IndonesiaMenurut Prof Junaidi, setidaknya ada tiga hal yang penting diperhatikan dalam memilih obat untuk anak. Berikut pembahasannya, mengutip dari laman UNAIR, Selasa (8/11/2022).
1. Ikuti Informasi Resmi Pemerintah Prof. Junaidi mengimbau masyarakat untuk tetap mengikuti informasi dan sumber resmi dari pemerintah, khususnya Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan Badan Pengawas Obat dan Makanan.
“Masyarakat harus mengikuti informasi dan sumber resmi pemerintah, karena yang tahu dan berwenang dalam menentukan hold, penundaan, atau penarikan obat mengandung etilen glikol dan dietilen glikol. Terlebih lagi sekarang sudah ada listing atau daftar obat-obat yang ditarik, sehingga masyarakat bisa mengacu ke sana, insyaallah aman,” ujarnya.
Lebih lanjut, pakar farmasi UNAIR itu juga mengimbau masyarakat untuk tidak menelan mentah-mentah informasi terkait obat-obatan di media sosial.
“Masalahnya, masyarakat sering ambil informasi di media sosial yang mana semua orang bisa memasukkan dan menyebarkan info di sana, sehingga masyarakat harus lebih bijak dalam memperoleh informasi dan sumber terkait obat-obatan itu tadi,” tutur Junaidi.
2. Pilih Alternatif Obat LainProf. Junaidi juga mengingatkan para orangtua memilih alternatif lain selain obat sirop untuk mengobati anak. Terdapat bentuk sedian obat lain yang dapat dikonsumsi, salah satunya puyer.
Beralih bentuk sediaan obat, menjadi salah satu opsi aman di tengah maraknya kasus obat sirop mengandung zat berbahaya Propilen Glikol.
"Tentu tidak satu-satunya (obat) sirop itu bentuk sediaan yang bisa diberikan pada anak. Ada bentuk sediaan lain, misalnya puyer, itu juga bisa digunakan. Meskipun mungkin rasanya pahit, tetapi ini bisa menjadi opsi di tengah maraknya kasus ini,” ucap Junaidi.
3. Libatkan Dokter dan ApotekerTerakhir, Prof. Junaidi menegaskan, masyarakat harus melibatkan peran dokter dan apoteker dalam menentukan obat aman bagi anak.
“Ketika obat-obat tersebut harus dengan resep dokter, maka tentu saja mereka harus berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter, sebelum selanjutnya datang ke apotek. Di apotek, mereka bertemu apoteker, di sana apoteker pasti memberikan informasi mana obat yang baik, aman, serta tidak menimbulkan potensi gagal ginjal,” ujarnya.
Prof. Junaidi turut mengimbau masyarakat tidak panik menghadapi situasi ini. Meski demikian, masyarakat tetap harus waspada agar kejadian serupa tidak terulang di kemudian hari.
“Saya harap masyarakat juga tidak panik dengan hal yang sedang kita hadapi ini. Tentu semua prihatin. Oleh karena itu, kejadian ini harus kita waspadai agar tidak terjadi di masa mendatang,” kata Junaidi.
(bal)