LANGIT7.ID, Jakarta - Beberapa sektor industri di Indonesia memiliki keunggulan dan dinilai mampu menjangkau pasar global. Namun, kurangnya kolaborasi dan andil generasi muda membuat pertumbuhannya tersendat.
Dari data Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) disebutkan, total keseluruhan desa di Indonesia, sebanyak 61.821 desa atau 82,7 persen di antaranya memiliki potensi di sektor pertanian. Diikuti 20.034 desa atau 26,8 persen potensi perkebunan, dan perikanan 12.827 desa atau sekitar 17,1 persen.
Baca juga: Punya Kesamaan Produk, Ini Tantangan Pelaku Ekspor Negara Tujuan MeksikoStaf Ahli Menteri Bidang Hubungan Antar Lembaga Kemendes PDTT, Samsul Widodo mengatakan, data tersebut menunjukkan adanya potensi yang bisa menjadi andalan untuk meningkatkan penjualan produk Indonesia demi meramaikan pasar ekspor. Namun sayangnya, belum ada pengembangan yang bisa dilakukan, khususnya anak muda untuk bisa memanfaatkan peluang tersebut.
“Saya harap generasi muda ini bisa menjadi agregator untuk mengonsolidasikan produk hasil desa untuk bisa menjangkau akses pasar yang lebih luas. Jadi yang terpenting adalah bagaimana menumbuhkan anak muda di kabupaten yang mampu melakukan ekspor secara mandiri. Tidak harus banyak, asal motivasinya terbangun,” ujarnya dalam Webinar Merdeka Ekspor, UKM Merdeka, Rabu (18/7).
Jika tidak, lanjut Samsul, sampai kapan pun UMKM hanya mampu melalukan produksi, tanpa bisa menjangkau pasar yang lebih luas, dalam hal ini kaitannya dengan usaha jangka panjang. Padahal ada potensi besar yang diharapkan bisa menjadi sasaran ekspor bagi pelaku usaha di daerah.
Sehingga dari beberapa sektor, seperti pertanian, nelayan, pengrajin dan penjahit juga mampu menjangkau pasar ekspor dengan kontribusi anak muda untuk menjadi agregator.
“Sebenarnya di desa itu ada potensi anggaran lewat dana desa, yang dari tahun ke tahun satu desa rata-rata Rp1 miliar. Seringkali dana dihabiskan untuk infrastruktur, seperti saat pandemi ini yang terfokus kepada sektor kesehatan. Sebenarnya anggaran yang tersisa itu diharapkan bisa digunakan untuk pembelajaran, khususnya dalam hal perekonomian,” ujarnya.
Baca juga: Ekspor Perikanan Indonesia Meningkat di Masa PandemiSelain itu, permasalahan lain yang menjadi kendala bagi ekonomi desa, di antarnya adalah rendahnya skala ekonomi, lemahnya akses pasar, jalur distribusi yang panjang, rendahnya sarana pasca panen, dan kesulitan permodalan.
“Perlu adanya pendampingan kepada desa yang memiliki produk unggulan, termasuk sektor pertanian yang penduduk desa bekerja dalam sektor ini mencapai 82,77 persen. Tentu dengan adanya pendampingan, produk unggulan tersebut tidak hanya memiliki kualitas yang baik nantinya, tapi juga dipandu untuk mendapatkan sertifikasi terkait kelengkapan dokumen ekspor agar mereka juga bisa merasakan dan bersaing di pasar global,” imbuhnya.
(zul)