LANGIT7.ID – Dalam banyak hal,
Al-Qur’an tidak bersikap
romantis ketika berbicara tentang manusia. Kitab suci ini bukan sekadar kumpulan pujian atau kutukan, melainkan sebuah potret eksistensial manusia dalam kedudukannya yang paling paradoksal: makhluk paling mulia sekaligus paling durhaka.
“
Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya,” (QS At-Tin [95]: 4), begitu firman Tuhan yang mengangkat harkat insani. Namun, tak lama berselang, kitab yang sama menegur dengan nada tegas: “
Sesungguhnya manusia sangat zalim dan sangat mengingkari nikmat.” (QS Ibrahim [14]: 34).
Kontradiksi ini bukanlah paradoks logika, melainkan cermin dari kedalaman potensi manusia itu sendiri. Dalam buku
Wawasan Al-Qur’an (Mizan, 1996),
Prof. Dr. M. Quraish Shihab menyebut bahwa Al-Qur’an memandang manusia sebagai makhluk yang “berpotensi untuk terbang setinggi malaikat atau jatuh sehina-hinanya melebihi binatang.”
Al-Qur’an menyatakan bahwa manusia adalah satu-satunya makhluk yang diciptakan dari dua unsur: tanah yang rendah dan roh Ilahi yang tinggi. “
Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya dan meniupkan kepadanya roh-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.” (QS Shad [38]: 72).
Baca juga: 2 Jiwa Manusia: Hewani dan Rohani, Begini Penjelasan Imam Al-Ghazali Roh inilah, menurut Quraish Shihab, yang menjadikan manusia sebagai makhluk pemikul amanah, makhluk rasional yang mampu menyusun konsep, mencipta, mengembangkan gagasan, dan menghadirkan peradaban.
Namun, unsur tanah, dengan segala kodrat jasmaniahnya, juga tak bisa dihapuskan. Ia membawa sifat keluh kesah (QS Al-Ma’arij [70]: 19), penuh bantahan (QS Al-Kahfi [18]: 54), dan kikir. Inilah sebabnya manusia tak bisa dimengerti hanya melalui pendekatan spiritual—apalagi semata-mata biologis.
“Manusia tidak bisa disebut manusia lagi jika unsur roh atau tanahnya dihapuskan, sebagaimana air tidak akan menjadi air jika oksigen dan hidrogennya dipisahkan,” tulis Quraish.
Mengapa Malaikat Bersujud?Ayat-ayat awal Surah Al-Baqarah menyuguhkan salah satu drama kosmik terbesar dalam sejarah eksistensi manusia: perintah sujud kepada Adam. Malaikat—makhluk yang tak pernah durhaka—sempat bertanya, “Apakah Engkau hendak menjadikan di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah?”
Pertanyaan itu dijawab Tuhan bukan dengan penjelasan panjang, melainkan melalui demonstrasi potensi. Adam diperlihatkan mampu menyebut nama-nama (al-asma’)—sebuah simbol dari kapasitas berpikir, memberi makna, dan menyusun pengetahuan. Inilah argumentasi paling kuat tentang kedudukan kekhalifahan manusia.
Di sini, “nama” bukan sekadar label, melainkan pengetahuan yang melahirkan kekuasaan atas alam. Potensi itulah yang bukan hanya membuat malaikat bungkam, tetapi juga mewajibkan mereka bersujud.
“Bukan karena keistimewaan tubuh Adam,” tulis Quraish Shihab, “tetapi karena potensi akalnya yang telah diberi oleh Tuhan.”
Baca juga: Keadaan Rohani Manusia Menurut Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani Sebelum diturunkan ke bumi, Adam dan Hawa tidak langsung menempati planet ini. Mereka terlebih dahulu mengalami kehidupan surga: hidup cukup, aman, dan damai—namun tetap diuji oleh godaan Iblis.
Menurut Quraish, ini bukan sekadar kisah kejatuhan manusia. Ini adalah simulasi awal tentang dua hal:
Pertama, bahwa manusia memang ditakdirkan hidup dalam kesejahteraan (*kafaa’ah*) sebagaimana surga menyediakan pakaian, makanan, dan ketenteraman (QS Thaha [20]: 116–119). Inilah arah ideal peradaban manusia di bumi.
Kedua, bahwa sejak awal manusia harus waspada terhadap tipu daya setan. Bahkan di surga pun manusia bisa tergelincir—apalagi di bumi.
Jatuhnya Adam bukanlah tragedi, melainkan awal kesadaran manusia. Dari sana, lahirlah tanggung jawab, etika, dan pembelajaran.
Baca juga: Makanan Halal Menurut Al-Quran: Makanan Nabati dan Hewani Potensi sebagai Amanah, Bukan AlasanNamun potensi tak pernah berarti otomatis kebesaran. Ia adalah bekal, bukan jaminan. Al-Qur’an menyebut manusia sebagai makhluk yang diberi amanah—dan karenanya harus mempertanggungjawabkan pilihannya.
Ketinggian manusia, kata Quraish Shihab, bukan hanya karena ia tahu, tetapi karena ia bisa memilih. Ia adalah satu-satunya makhluk yang diberi kebebasan dan sekaligus diwajibkan menanggung akibatnya.
“Sesungguhnya Kami telah tawarkan amanah kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, tetapi semuanya enggan dan takut menerimanya. Lalu manusia menerimanya. Sungguh, ia amat zalim dan bodoh.” (QS Al-Ahzab [33]: 72)
Di titik inilah manusia menjadi makhluk eksistensial: ia bisa mengubah nasibnya, tapi juga bisa menghancurkan dirinya.
Baca juga: Mencari Akhlak di Antara Tuhan dan Tumbuhan Menurut Quraish Shihab Dalam dunia modern yang melambungkan akal manusia sekaligus menjatuhkannya dalam lembah nihilisme, gagasan *potensi manusia* dalam Al-Qur’an menjadi sangat relevan.
Ia tidak menempatkan manusia sebagai objek pasrah kepada takdir, atau sebagai dewa yang menciptakan dirinya sendiri. Manusia adalah makhluk di tengah jalan—yang bisa naik ke langit atau jatuh ke lembah—tergantung bagaimana ia menggunakan potensi yang telah dititipkan.
Masih banyak ayat lain yang mengungkap sifat dan potensi manusia serta arah yang seharusnya ia tempuh. Dari Al-Qur’an dan hadis-hadis Nabi SAW diperoleh informasi serta isyarat yang dapat membuka sebagian misteri makhluk bernama manusia.
Namun demikian, semua pemahaman dan tafsir atas isyarat itu tak bisa dilepaskan dari subjektivitas manusia, sehingga selalu mengandung kemungkinan benar atau salah—termasuk tulisan ini.
Baca juga: Apa yang Harus Disyukuri? Berikut Ini Penjelasan Quraish Shihab Secara tegas, Al-Qur’an menyebut bahwa manusia pertama diciptakan dari tanah dan roh Ilahi melalui proses yang tak dijelaskan secara rinci. Reproduksi manusia memang dikemukakan tahapan-tahapannya, namun lebih banyak merujuk pada unsur tanahnya.
Isyarat mengenai unsur imaterial manusia—yang membedakannya dari makhluk lain—ditemukan dalam uraian tentang fitrah, nafs, qalb, dan roh. Istilah-istilah inilah yang menjadi pintu masuk untuk memahami hakikat manusia—sebagai makhluk yang berpotensi tinggi, namun juga sangat rapuh.
(mif)