LANGIT7.ID, Jakarta - Setiap orang umumnya memiliki sekitar 10 hingga 40 tahi lalat di tubuhnya. Meski bukan hal berbahaya, namun tahi lalat yang memiliki warna, ukuran, atau bentuk tidak normal bisa jadi tanda awal
kanker kulit.
Kanker kulit menyerupai tahi lalat disebut dengan melanoma. Ini merupakan jenis kanker kulit paling berbahaya dan terjadi ketika sel melanosit tumbuh secara tidak terkendali. Radiasi UV merupakan penyebab utama peningkatan risiko melanoma.
Pada awal kemunculannya, melanoma sulit dibedakan dengan tahi lalat normal. Meski serupa, ada beberapa tanda perbedaan tahi lalat normal dan kanker kulit melanoma yang bisa Anda kenali.
Baca Juga: 5 Kebiasaan yang Bisa Tingkatkan Kesehatan Jantung Secara DrastisTahi lalat normal biasanya memiliki bercak coklat, atau hitam berwarna merata pada kulit. Umumnya, tahi lalat normal berbentuk bulat atau oval dengan ukuran kurang dari 6 milimeter. Beberapa tahi lalat dapat muncul saat lahir, tapi sebagian besar tumbuh selama masa kanak-kanak atau remaja.
Setelah tahi lalat berkembang, biasanya akan tetap dengan ukuran, bentuk, dan warna yang sama selama bertahun-tahun. Bahkan, beberapa tahi lalat pada akhirnya bisa memudar.
Namun, ada beberapa tanda tahi lalat merupakan kanker melanoma. Salah satu tandanya adalah perubahan ukuran, bentuk, dan warna seiring pertumbuhannya.
Melanoma berbentuk asimetris atau tidak beraturan. Pada kanker kulit melanoma, tahi lalat bentuknya tidak jelas dan berantakan. Permukaannya kadang agak bersisik, kering, menebal, atau mengeras.
Baca Juga: Mengenal Perbedaan Radiasi UV-A, UV-B, dan UV-C dan Bahayanya Bagi KulitMelansir dari Mayo Clinic, Kamis (17/11/2022), Kanker melanoma tumbuh dengan berbagai warna, mulai dari cokelat terang, cokelat gelap, biru kehitaman, atau merah.
Seperti dijelaskan sebelumnya, tahi lalat normal memiliki ukuran yang stabil dan bahkan memudar seiring bertambah usia. Sementara melanoma bisa membesar dan jumlahnya kian banyak. Perubahan lain perlu diwaspadai pada tahi lalat adalah munculnya rasa gatal, nyeri, luka, dan keluarnya cairan seperti nanah atau darah.
Jika tanda tersebut muncul, segera periksa ke dokter. Selain konsultasi dan pemeriksaan fisik, dokter akan melakukan biopsi untuk membantu memastikan diagnosis kanker kulit.
Tentunya, kanker kulit bisa dihindari. Ikuti langkah-langkah berikut ini untuk melindungi kulit Anda dari radiasi ultraviolet (UV), seperti matahari atau
tanning bed.
1. Hindari Paparan Sinar Matahari LangsungSaat ke luar ruangan, hindari paparan sinar matahari langsung. Jika terpaksa harus beraktivitas di siang hari, pastikan kulit terproteksi.
Gunakan tabir surya setiap hari, baju lengan panjang, atau payung. Oleskan tabir surya sekitar 30 menit sebelum pergi ke luar ruangan. Gunakan tabir surya dengan SPF minimal 15.
Aaplikasikan kembali setiap dua jam atau lebih sering jika Anda berenang atau berkeringat. American Academy of Dermatology merekomendasikan penggunaan tabir surya tahan air spektrum luas dengan SPF minimal 30.
2. Hindari Sinar UV BuatanSinar ultraviolet buatan seperti adalah prosedur tanning untuk menggelapkan kulit. Prosedur ini meningkatkan risiko kerusakan kulit dan berkembangnya melanoma.
Baca Juga:
Tips Menjaga Kesehatan Mental bagi Pejuang Kanker
Informasi Salah Seputar Gejala Kanker Penyebab Wanita Abai Deteksi Dini(gar)