LANGIT7.ID, Jakarta - Tantangan bagi pejuang kanker bukan hanya melawan penyakit fisik kanker saja. Namun juga menghadapi masalah mental karena emosi negatif yang muncul saat melawan penyakitnya.
Psikolog Morula IVF Jakarta, Arina Megumi Budiani, menilai, tantangan menghadapi emosi negatif bagi penderita kanker bukanlah perkara mudah. Butuh dukungan mental dan emosional untuk melewati hari-hari yang sangat berat.
Maka, tidak masalah jika pejuang kanker mengekspresikan emosi negatif saat menghadapi situasi berat tersebut. Tidak perlu menyembunyikan atau pura-pura tidak terjadi apa-apa.
“Emosi wajar sekali ada. Walaupun kita perlu melakukan itu dalam taraf secukupnya,” kata Arina dalam webinar pada Ahad (16/10/2022).
Baca Juga: Mental Illness dalam Perspektif Islam dan Relasinya dengan Keimanan
Emosi itu diperlukan untuk menyadari kesehatan penting. Setelah itu, emosi itu diolah untuk menyiapkan mental menjalani pengobatan yang tidak mudah. Arina menyebut emosi tidak bisa dikontrol. Kadang naik, kadang turun.
Akan tetapi, hal yang perlu diperhatikan adalah menyeimbangkan antara sisi emosi dan rasional. Rehat sejenak untuk menerima kenyataan, lalu memikirkan apa yang mesti dilakukan.
“Supaya emosinya tidak berlarut. Kebayang kan kalau kita sedih terus, akhirnya luput memikirkan untuk ke depannya mau apa,” ujar Arina. Masalah tidak akan pernah selesai bila sedih berlebihan. Maka, rehat sejenak diperlukan untuk mempersiapkan dan menguatkan langkah ke depan.
Lalu bagaimana cara mengelola stress yang ditimbulkan emosi?. Setiap orang memiliki emosi berbeda-beda. Tiap-tiap orang juga punya cara tersendiri meregulasi emosi. Maka, setiap individu harus mampu mengenali diri sendiri terlebih dahulu, lalu bersiap melakukan perjalanan mengobati kanker.
Baca Juga: Melacak Teori Kesehatan Jiwa dalam Islam, Ibadah Bisa Jadi Psikoterapi
“Itu perjalanan yang tidak pendek. Bukan sesuatu yang bisa kita ekspektasikan akhirnya akan jadi apa,” kata Arina.
Arina membagikan beberapa hal yang bisa dilakukan pejuang kanker agar bisa mengolah emosi dengan baik, di antaranya:
1. Menikmati MomenTerapi kanker merupakan perjalanan panjang. Tidak bisa disamakan dengan penyakit biasa. Maka menikmati moment sangat penting. Moment itu tidak harus besar. Kebahagiaan bisa muncul dari moment-moment kecil, tapi memberikan ketenangan dalam jiwa.
“
Healing tidak harus liburan. Bisa hal kecil bisa membuat kenyamanan bertambah, entah hal yang suka,” kata Arina. menikmati momen itu penting,” ujar Arina.
2. Mencari Hal-Hal yang Membuat NyamanPejuang kanker harus mencari hal-hal yang bisa membuat nyaman. Namun, hal itu harus disesuaikan dengan kondisi pengobatan. Tidak bagus pula jika terlalu memaksakan.
Baca Juga: Hari Kesehatan Mental Dunia, Begini Pesan WHO Pascapandemi
“Disesuaikan sehingga, kita tetap bisa punya hal-hal yang bisa membantu kita untuk berjuang lagi. Nikmati momen, lakukan yang membuat nyaman, tapi tetap sesuaikan dengan tujuan terapi. Jangan terlalu nyaman tapi tidak sesuai protokol terapi,” ujar Arina.
3. Mencari Informasi Seputar KankerArina mengatakan, seseorang tidak akan tahu apa yang tengah dihadapi jika tidak mencari tahu. Bahasa sederhananya mengedukasi diri. Pejuang kanker bisa mencari informasi terkait apa yang bisa dilakukan untuk menghadapi perjalanan panjang.
“Bisa cari informasi ke sesama penyintas kanker, apalagi sekarang teknologi maju. Ketika kita tahu apa yang ada di depan, kita bisa mempersiapkan diri,” kata Arina.
Meski begitu, pejuang kanker harus tetap mengenali diri. Itu karena terlalu banyak informasi juga tidak baik. Perlu kecerdasan mengolah informasi yang didapat, mana informasi yang benar-benar dibutuhkan dan tidak diperlukan.
Baca Juga: Baca Al-Quran dengan Irama Merdu Berpengaruh pada Kesehatan Jiwa
“Penting untuk tahu, tapi ketika sudah tahu maka persiapkan secukupnya. Setelah itu Sudah. Karena terlalu banyak informasi juga bisa menyebabkan overthinking. Jadi, saat tahu informasi, bukan malah tenang, tapi makin cemas,” kata Arina.
Selain itu, informasi yang diterima harus divalidasi terlebih dahulu. Informasi itu harus memiliki sumber akurat. Dengan begitu, pejuang kanker bisa mengenali batasan-batasan informasi, sehingga tidak melahirkan stress.
4. Support System dan Support GroupSupport group sangat membantu. Bergabung dengan komunitas pejuang kanker akan melahirkan perasaan tenang, karena merasa tidak sendirian. Ada banyak orang yang tengah berjuang dari masalah yang serupa.
“Cari orang-orang yang support.
Support dari orang-orang yang mengalami hal yang sama,” ucap Arina.
Support system juga demikian. Sangat penting. Support system terbaik adalah keluarga lalu teman-teman ataupun komunitas. Support system menjadi penguat untuk melakukan perjalanan panjang.
5. Mengekspresikan Keinginan kepada Orang TerdekatBanyak orang yang bisa memberikan dukungan. Namun, tidak semua orang bisa memahami dukungan yang tepat bagi pejuang kanker. Arina menyebut, mayoritas pejuang kanker tidak ingin dianggap sakit atau dikasihani.
Tetapi, banyak orang tidak memahami ini. Maka, mengekspresikan keinginan kepada orang yang tulus mendukung sangat diperlukan. Ada banyak cara bisa dilakukan.
Bisa mengucapkan rasa terimakasih terlebih dahulu atas dukungan semangat yang diberikan. Lalu, komunikasikan baik keinginan. Sampaikan apa yang diinginkan, sehingga orang yang mau mendukung itu paham.
Baca Juga: Self Healing Terbaik: Dengan Mengingat Allah, Hati Jadi Tenang
“Sampaikan dengan pelan-pelan, lalu sampaikan ‘aku lebih nyaman kalau bentuk dukungan begini begini, temenin sebulan sekali, jangan anggap kayak orang sakit’,” kata Arina.
Dengan begitu, orang yang memiliki niat mendukung bisa paham lalu memberikan bentuk dukungan yang tepat. Misal sekadar mendengarkan semua curahan hati, ataupun mengajak bercerita hal-hal yang bisa mengundang tawa.
“Jadi, cari aja yang nyaman buat kita. Sumber-sumber
support system itu pasti ada kok, walaupun sedikit,” ujar Arina.
Arina lalu menjelaskan, bahagia itu tidak selalu harus senang. Bahagia bisa datang dari mana saja. Bisa dengan menikmati momen. Mengambil hal yang bermanfaat buat diri sendiri, dan mengabaikan hal-hal yang tidak diperlukan.
“Apapun yang dihadapi, dirasakan, tidak selalu yang bagus-bagusnya, apresiasi bahwa kalian itu hebat. Menghadapi ini (kanker) bukan hal yang mudah, bisa melewati hari-hari saja itu kalian hebat,” tutur Arina.
(jqf)