Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Ahad, 19 April 2026
home edukasi & pesantren detail berita

Melacak Teori Kesehatan Jiwa dalam Islam, Ibadah Bisa Jadi Psikoterapi

Muhajirin Senin, 10 Oktober 2022 - 11:45 WIB
Melacak Teori Kesehatan Jiwa dalam Islam, Ibadah Bisa Jadi Psikoterapi
ilustrasi (foto: langit7.id/istock)
LANGIT7.ID - World Mental Health Day atau Hari Kesehatan Jiwa Sedunia (HKJS) diperingati pada 10 Oktober setiap tahun. Peringatan ini dimaksudkan untuk meningkatkan kepedulian dan kesadaran masyarakat tentang pentingnya kesehatan jiwa atau mental.

HKJS 2022 merupakan peringatan yang ke-28 mengusung tema 'Make Mental Health and Well Being for all a Global Priority'. Dalam Islam, konsep kesehatan mental (al-tibb al-ruhani) pertama kali diperkenalkan dunia kedokteran Islam oleh seorang dokter dari Persia bernama Abu Zayd Ahmed ibnu Sahl al-Balkhi (850-934).

Dalam Masalih al-Abdan wa al-Anfus (Makanan untuk Tubuh dan Jiwa), al-Balkhi berhasil menghubungkan penyakit antara tubuh dan jiwa. Dia biasa menggunakan istilah al-Tibb al-Ruhani untuk menjelaskan kesehatan spiritual dan kesehatan psikologi. Sedangkan, untuk kesehatan mental dia kerap menggunakan istilah Tibb al-Qalb.

Menurut al-Balkhi, badan dan jiwa bisa sehat dan bisa pula sakit. Ini yang disebut keseimbangan dan ketidakseimbangan. Ketidakseimbangan dalam tubuh dapat menyebabkan demam, sakit kepala, dan rasa sakit di badan.

Baca Juga: Jaga Kesehatan Mentalmu, Agar Tak Sedikit-sedikit Healing

Sedangkan, ketidakseimbangan dalam jiwa dapat menciptakan kemarahan, kegelisahan, kesedihan, dan gejala-gejala yang berhubungan dengan kejiwaan lainnya.

Selain al-Balkhi, peradaban Islam juga memiliki dokter kejiwaan bernama Ali ibnu Sahl Rabban al-Tabari. Lewat kitab Firdaus al-Hikmah yang ditulisnya pada abad ke-9M, dia telah mengembangkan psikoterapi untuk menyembuhkan pasien yang mengalami gangguan jiwa.

Al-Tabari menekankan kuatnya hubungan antara psikologi dengan kedokteran. Dia menjelaskan, pasien kerap kali mengalami sakit karena imajinasi atau keyakinan yang sesat. Untuk mengobatinya, kata al-Tabari, dapat dilakukan melalui ''konseling bijak''.

Terapi ini bisa dilakukan oleh seorang dokter yang cerdas dan punya humor yang tinggi. Caranya dengan membangkitkan kembali kepercayaan diri pasien.

Baca Juga: Self Healing Terbaik: Dengan Mengingat Allah, Hati Jadi Tenang

Pemikir Muslim lain yang turut menyumbangkan pemikiran di bidang pengobatan penyakit kejiwaan adalah Al-Farabi. Ilmuwan termasyhur ini secara khusus menulis risalah terkait psikologi sosial dan berhubungan dengan studi kesadaran.

Ibnu Zuhr, alias Avenzoar juga telah berhasil mengungkap penyakit syaraf secara akurat. Dia juga telah memberi sumbangan yang berarti bagi neuropharmacology modern.

Kesehatan Mental dalam Perspektif Islam

Menurut Purmansyah Ariadi dalam jurnal Kesehatan Mental dalam Perspektif Islam mengatakan, agama tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Pengingkaran manusia terhadap agama karena faktor-faktor tertentu, baik disebabkan oleh kepribadian maupun lingkungan.

Namun, untuk menutupi atau meniadakan dorongan dan rasa keagamaan sulit dilakukan. Ini karena manusia memiliki unsur batin yang cenderung mendorong untuk tunduk kepada yang ghaib.

Ketundukan ini merupakan bagian dari faktor internal manusia dalam psikologi kepribadian dinamakan pribadi (self) ataupun hati nurani (conscience of man). Fitrah manusia sebagai makhluk ciptaan Allah mempunyai naluri beragama yaitu agama tauhid.

Baca Juga: Bukan Healing, Ini Kunci Kesehatan Jiwa Menurut Imam al Ghazali

"Kalau ada manusia tidak beragama tauhid, maka tidak wajar, mereka tidak beragama tauhid itu hanya karena pengaruh lingkungan, seperti yang ada dalam (QS Ar Ruum: 30:30)," kata Ariadi dalam jurnalnya, dikutip Senin (10/10/2022).

Agama sebagai terapi kesehatan mental dalam islam sudah ditunjukkan dalam ayat-ayat Al-Quran. Di antaranya ayat yang membahas tentang ketenangan dan kebahagiaan adalah QS An Nahl ayat 97.

“Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka Sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.”

Ibadah sebagai Psikoterapi

Ibadah tidak hanya bukti ketaatan seorang hamba kepada Allah. Namun, ibadah juga memiliki pengaruh besar kepada kesehatan jiwa. Misal wudhu. Wudhu disebut juga sebagai salah satu bentuk dari terapi air (water of therapy). Terapi air merupakan bentuk terapi dengan memanfaatkan air sebagai media terapis.

Rafi’udin dan Alim Zainudin dalam jurnalnya mengatakan, selain dampak psikis, wudhu juga memiliki pengaruh fisiologis, sebab dengan dibasuhnya bagian tubuh sebanyak lima kali sehari, lebih-lebih ditambah, maka akan membantu mengistirahatkan organ-organ tubuh dan meredakan ketegangan fisik dan psikis.

Demikian pula shalat. Melalui shalat, kepribadian seseorang akan terbimbing dalam menyikapi berbagai persoalan kehidupan. Tidak mudah putus asa bila mengalami kegagalan.

Baca Juga: Baca Al-Quran dengan Irama Merdu Berpengaruh pada Kesehatan Jiwa

Selain itu, terapi jiwa bisa juga dengan membaca Al-Qur'an. Di beberapa tempat telah dibuka pusat-pusat pengobatan ruhani atau pengobatan yang menggunakan Al-Qur'an. Pengobatan tersebut biasa dikenal dengan istilah ruqyah syar’iyyah.

Ibadah puasa, dzikir, dan haji juga memiliki pengaruh kuat dalam menjaga kesehatan mental seseorang. Ini karena agama diturunkan untuk menciptakan keseimbangan antara fisik dan psikis.

(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Ahad 19 April 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:55
Ashar
15:14
Maghrib
17:53
Isya
19:03
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَاِنَّهٗ مُلٰقِيْكُمْ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلٰى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ࣖ
Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)