LANGIT7.ID - Kata
healing kerap digunakan oleh anak muda mulai dari milenial hingga gen z untuk
refreshing atau melepas penat setelah menjalani pekerjaan atau tanggung jawab yang menumpuk.
Menurut Guru Besar Universitas Indonesia, Prof Rhenald Kasali, kata healing cenderung banyak disalahartikan penggunannya. Jalan-jalan ke Bali, ke Puncak hingga ke berbagai objek wisata kini sering disebut sebagai
healing. Padahal,
healing menurut Prof Rhenald Kasali adalah pemulihan atau penyembuhan yang harus dilakukan oleh seseorang yang mengalami depresi atau penyakit tekanan mental.
Senada dengan Rhenald Kasali, Dosen Psikologi UNAIR Affif Kurniawan, menyebut kegiatan
healing justru lebih terkesan seperti justifikasi untuk menghindari tugas atau permasalahan. Ini adalah sebuah bentuk ketidakmampuan seseorang dalam menerima kenyataan.
Baca Juga: Self Healing Terbaik: Dengan Mengingat Allah, Hati Jadi Tenang
“Kita menyegarkan pikiran kita tanpa memikirkan bagaimana cara me-
manage tugas atau permasalahan nantinya. Hasilnya bukannya terselesaikan justru kita malah menghadapi permasalahan yang semakin banyak,” kata Afif, dikutip dari laman resmi Unair, Senin (23/5/2022).
Healing adalah mekanisme yang diperlukan oleh penderita gangguan mental dan bukan sekadar refreshing. Ada empat ciri orang mengalami gangguan kesehatan mental, yakni
disability, dysfunction, distress, dan
discomfort. Ciri tersebut perlu didiagnosis oleh ahli kesehatan jiwa dan tidak bisa didiagnosis sendiri.
Kendati demikian, ada beberapa tips bagi milenial atau gen z agar tidak mudah stress dan kesehatan mental tetap terjaga. Sehingga tak perlu sedikit-sedikit
healing berkedok
refreshing.Meningkatkan Kepercayaan DiriMenurut Afif, ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk menjaga kesehatan mental. Seperti lebih menerima dan menikmati hidup, serta meningkatkan kepercayaan diri.
Dia mengungkapkan, kepercayaan diri seseorang adalah hal penting dalam menjalani hidup. Karena ketika orang percaya diri, dia akan berani untuk mencoba hal baru, berani menghadapi tantangan baru, dan percaya mampu mengatasi permasalahan dengan kemampuan yang mereka miliki.
“Oleh karena itu, meningkatkan kepercayaan diri adalah salah satu langkah untuk memiliki kesehatan mental yang bagus,” ujarnya.
Hindari Kritik Berlebihan Terhadap Diri SendiriGuna meningkatkan kepercayaan diri seseorang. Pertama, menghindari kritik berlebihan terhadap diri sendiri. Jika kita terlalu mengkritik diri sendiri secara negatif, maka kita tidak akan bisa melihat
value yang ada pada diri kita sehingga membuat kita tidak percaya diri. Parahnya, bisa membuat kita membenci diri sendiri. Ia juga menyarankan supaya kita bisa lebih fokus terhadap aspek-aspek positif yang kita miliki.
“Kritik itu boleh asalkan disertai saran pengembangan. Jadi selain mengkritisi diri sendiri kita juga harus menghindari pertemanan toksik yang hanya mengkritik dan menjatuhkan kita,” tuturnya.
Baca Juga: Self Healing: Jaga Kesehatan Mental dengan Memaafkan Orang Lain
Menetapkan Ekspektasi yang RealistisKedua, menetapkan ekspektasi yang realistis. Salah satu faktor yang membuat orang merasa gagal dan tidak percaya diri adalah ketika ekspektasi mereka tidak sesuai dengan realita yang ada.
“Oleh karena itu, jika kita berekspektasi kita harus realistis, sesuaikan dengan kemampuan diri kita serta jangan berfikir untuk membuat semua harus sempurna, karena hal itu akan malah membebani kita,” jelasnya.
Terakhir, carilah pertemanan yang mampu melihat
value kita dan mampu menghargai kita. “Karena seseorang juga perlu diapresiasi, jadi hindari pertemanan toksik yang hanya akan membuat kita
down,” tandasnya.
(jqf)