LANGIT7.ID, Pasuruan - Almarhum KH Abdul Hamid bin Abdullah Umar atau akrab disapa Mbah Hamid adalah salah satu sosok kiai yang cukup masyhur di kalangan Nahdliyyin. Bahkan tak sedikit ulama maupun masyarakat yang mempersaksikan beliau sebagai
waliyullah. Makam beliau di Pasuruan tak pernah sepi dari peziarah dan setiap peringatan haul-nya di Pasuruan selalu ramai dihadiri jamaah.
Cucu Mbah Hamid dan Putri KH Idris Hamid, Ning Wardah Nafisah menceritakan kepada LANGIT7.ID tentang sosok Mbah Hamid, terlebih tentang bagaimana Sang Kiai mendidik anak. Diantara yang paling diingat oleh Ning Wardah yaitu Mbah Hamid sama sekali tidak pernah marah kepada anak-anaknya.
![Parenting ala Mbah Hamid Pasuruan: Tidak Pernah Marahi Anak Istri]()
“Tentang Mbah Hamid dari cerita ayah saya lebih
Masya Allah lagi. Terutama sama anak dan istrinya Mbah Nafisah. Tidak pernah sama sekali meninggikan suara apalagi marah,” tutur Ning Wardah kepada LANGIT7.ID , Senin (5/7/2021).
Akhlak tidak pernah marah kepada anak dan istri itu, juga diikuti oleh ketiga putra Mbah Hamid.
“Anaknya Mbah Hamid itu tiga cowok semuanya. Beliau-beliau juga nggak pernah marah-marah ke keluarganya,” kata Wardah.
Putra bungsu Mbah Hamid, KH Idris Hamid, menurut penuturan Ning Wardah juga jarang sekali marah.
“Saya selalu menganggap Abah saya ini
the best man in the world. Abah saya tidak pernah meninggikan suara ataupun marah. Seumur hidup, saya bisa menghitung berapa kali abah saya marah. Contohnya dulu Abah saya pernah marah dalam rangka menyuruh kakak saya berhenti merokok,” ujar alumnus University of London ini.
Tak hanya itu, di mata Ning Wardah Mbah Hamid adalah sosok yang mampu menyeimbangkan antara urusan akhirat dan dunia. Dalam urusan akhirat, Ning Wardah menyebut Kakeknya mengamalkan wirid membaca Al-Fatihah seribu kali setiap harinya. Dan Almarhum Mbah Hamid selalu khatam Al-Qur’an setiap tiga hari.
“Mungkin ini yang unik juga, kalau Kiai pada umumnya zuhud, ibadah terus. Tapi Mbah Hamid itu termasuk yang
balance antara dunia dan ibadah. Ibadah yang utama tapi jangan sampai duniawi juga tertinggal,” katanya.
Diantara perintah Allah dalam Al-Qur’an yang dipegang teguh oleh Mbah Hamid yakni pada surat An-Nisa ayat 9 yang memiliki arti:
Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.
Mbah Hamid mengamalkan ayat di atas dengan meninggalkan warisan tanah dan rumah kepada anak-anaknya sebelum ia wafat.
“Abah saya menerjemahkan itu betapa
Masya Allah-nya Mbah hamid, kita untuk mendapatkan akhirat juga harus bisa mendapatkan dunia. Jadi harus
balance. Abah saya bilang itu ada di Al-Qur’an, kita tidak boleh meninggalkan keturunan kita dalam keadaan lemah. Kalau manusia tidak hanya kuat iman dan ibadah saja namun juga harus kuat dari segi finansial dan internal juga harus kuat,” pungkas Ning Wardah.
(jqf)